[Liputan] Gagahnya ‘Big Rayah’ di Langit Sumatera Barat

Cerita ini berawal ketika penulis dan teman-teman aktivis islam lainnya (kalau boleh penulis sebut begitu) melakukan perjalan dakwah dari Pekanbaru, Prov. Riau ke Provinsi Sumatera Barat. Ada beberapa tujuan kami, selain untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, juga adalah untuk mengibarkan Panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ukuran besar yakni 4×6 meter yang kami sebut Big Rayah.
Kami berangkat pada Jumat pagi (16/2) sebanyak 15 orang menggunakan 2 mobil. Spot pertama yang kami buru adalah Kelok Sembilan. Big Rayah kami bentangkan di jembatan utama. Selain untuk dokumentasi pribadi momen ini juga menarik perhatian orang-orang lain yang berada disana. Selain di jembatan utama kami juga membentangkan di bagian bawah jalan.
Gambar 1 : Big Rayah di Kelok Sembilan (a)
Gambar 2 : Big Rayah di Kelok Sembilan (b)
Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan ke Kota Bukittinggi, sebelumnya kami merencanakan akan mengambil momen juga di Istana Pagaruyung, Batusangkar, namun karna perjalanan yang cukup lama dan tidak sempatnya waktu maka kami meniadakan kunjungan ke Istana yang dibagun pertama kali pada abad 17 dan pernah terbakar pada Perang Padri pada Tahun 1804 itu.

Dalam perjalanan ke di Kota Bukittinggi, kami singgah sebentar di Lembah Harau, Kota Payakumbuh dan juga menjalankan misi kami disana untuk membentangkan Big Rayah. Sembari menikmati indahnya kekuasaan Allah Ta’ala.
Setelah usai, kami lasngsung melanjutkan perjalanan. Akhirnya, kami sampai di Kota Bukittingi saat adzan Isya berkumandang. Sejenak kami beristirahat disebuah rumah yang sudah kami hubungi untuk bisa ditempati selama satu malam, sang pemilik rumah masih bagian dari keluarga salah seorang diantara kami. Pada sekitar pukul 21.00 kami sempat mengunjungi Jam Gadang walaupun tidak sempat membentangkan Big Rayah. Lokasi tempat kami menginap dan Jam Gadang berjarak sekitar 11 km. Setelah usai sedikit berkeliling, selanjutnya kami kembali ke rumah dan beristirahat untuk bisa melanjutkan perjalanan esok harinya.
Esok harinya, Sabtu (17/2) hari begitu cerah, sinar matahari agak terlambat keluar menyinari karena lokasi dikelilingi perbukitan dan gunung. Setelah usai sholat subuh, kami pun bergegas untuk pergi lagi ke Kota Bukittinggi. Sembari menikmati pemandangan Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, dalam perjalanan kami juga melihat Museum Rumah Kelahiran H. Agus Salim rahimahullah. Beliau adalah seorang muslim yang taat, cerdas, diplomat ulung dan juga salahsatu founding fathers Indonesia. Yang pada tahun 1915 bergabung dengan Sarekat Islam. Benar, disinilah lahirnya H. Agus Salim, Koto Gadang, yang tugunya juga sempat kami abadikan lewat sebuh foto nantinya
Di Kota Bukittinggi ada beberapa spot yang kami singgahi untuk membentangkan Big Rayah. Diantaranya Ngarai Sianok, Panorama, Janjang Koto Gadang, dan Lobang Jepang walaupun kami tidak sempat membentangkan Big Rayah di Lobang peninggalan Jepang ini, tempatnya Romusha dahulu. Disini kami cukup terenyuh bagaimana membayangkan kerasnya perjuangan para rakyat Indonesia dulu, melubangi bukit dengan hanya diberi makanan bubur, jika tidak produktif lagi maka tinggal dieksekusi. Ini juga menjadi pengingat bagi kami untuk tidak membiarkan Indonesia ini dijajah kembali, termasuk dijajah dari segi peraturan dan pemikiran.
Gambar 2b : Big Rayah di Lembah Harau
Gambar 3 : Big Rayah di Ngarai Sianok (a)
Gambar 3b : Big Rayah di Ngarai Sianok (b)
Gambar 4 : Big Rayah di Panorama
Gambar 5 : Teman Penulis di Tugu Kelahiran H. Agus Salim yang diresmikan pada tahun 2013 oleh Tifatul Sembiring
Gambar 5b : Teman penulis di Janjang Koto Gadang, juga disebut sebagai Replika The Great Wall, Cina
Gambar 6 ; Rayah di Puncak Janjang Koto Gadang, Big Rayah tidak sempat difoto
Ada pengalaman yang menarik saat kami disarankan untuk memasang Big Rayah di salahsatu sudut Janjang Koto Gadang oleh salahsatu petugas kebersihan disana, ternyata dia juga menyukai Panji Syahadatain ini. Beliau juga memiliki ghirah islam yan tinggi dan mengikuti isu keislaman yang terkini dan juga memiliki kesadaran yang cukup Islam. Cukup lama kami mengobrol, sayang penulis tidak ada menanyakan namanya. Barakallah Pak.
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Lawang dan Danau Maninjau yang terletak di Kab. Agam. Saat kami di Danau Maninjau, kami tidak sempat mengambil momen karena hujan sangat lebat. Kami singgah sebentar untuk Sholat Ashar dan Zuhur yang di Jama’ dan Qashar. Sehabis sholat penulis berkeliling masjid dan melihat sebuah poster sebuah pesantren yang dinisbatkan namanya ke Prof. Buya Hamka. Iya, ulama yang kharismatik, fenomenal dan pelaku sejarah itu memang lahir di Kampung Molek, Maninjau.
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Lawang, meskipun hari juga hujan, kami tetap membentangkannya dikelilingi oleh awan yang cukup pekat yang menghalangi pandangan kami ke pemandangan sekeliling, sehingga tidak dapat melihat Danau Maninjau dari atas puncak.
Gambar 7 ; Big Rayah di Puncak Lawang
Terakhir, sebelum matahari terbenam kami membentangkan Big Rayah di Pantai Artha, Kab. Padang Pariaman. Pantai sudah sunyi, hanya ada kami, sembari teman-teman menikmati pantai, kami sempatkan membentangkan Big Rayah.
Gambar 8 : Big Rayah di Pantai Artha
Selepas Isya, kami berangkat pulang ke Pekanbaru. Kami bahagia bisa menjalankan misi dakwah ini, tujuan kami untuk lebih mengenalkan tentang Panji Rasulullah kepada umat islam lainnya. Semoga lain waktu di lokasi lainnya. Semoga.

Yendri Ikhlas Fernando, ST (Aktivis Islam)
Pekanbaru

Advertisements