Umar bin Abdul Aziz

al-quran

​Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu al-’Ash bin Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia keturunan Bani Umayah, berdarah Quraisy. Ia lahir pada tahun 61 H/682 M di Madinah (Tadzkirah al-Huffâzh, 1/118-120).

Umar bin Abdul Aziz sejak kecil mencintai ilmu dan sering menghadiri majelis para ulama. Madinah pada zamannya adalah kota yang gemerlap dengan kebaikan dari ilmu para ulama, fuqaha dan orang-orang salih. Yang pertama kali ia pelajari dari para ulama adalah adab (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/679).

Ia hapal al-Quran sejak masih kecil. Al-Quran membimbing dirinya hingga menjadi orang bersih. Sungguh membekas semua pelajaran dalam al-Quran yang ia pelajari. Ia sangat takut jika mendengar kematian sehingga ia sering menangis (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/678).

Umar bin Abdil Aziz memiliki 33 guru. Delapan di antaranya adalah para Sahabat dan 25 lainnya dari kalangan Tâbi’în (Musnad Amîr al-Mu’minîn ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 33). Ia pernah duduk bersama Abu Hurairah ra. Karena itu ia banyak meriwayatkan hadis dari jalur Abu Hurairah ra. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 4/47)

Tentang sosoknya yang agung ini, Al-Hafizh al-Imam adz-Dzahabi antara lain berkata, “Umar bin Abdul Aziz adalah al-Imam al-Hafidz al-‘Allamah al-Mujtahid az-Zahid al-Abid, as-Sayyid Amirul Mu’minin haqq[an].” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’ 5/136, 120, 114, 144).

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problem yang ada dan memiliki analisis yang tajam. Di antara karakteristik yang ia milikinya antara lain: rasa takut yang tinggi kepada Allah SWT. Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. “Berilah aku petuah!” Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar, “Amirul Mukminin! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberi engkau manfaat… “ Serta-merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu-sedu hingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 164).

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang wara’. Di antara sikap wara’-nya adalah keengganannya menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi meskipun sekadar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, “Wahai Khalifah! Bukankah itu sekadar aroma saja, tidak lebih?” Beliau menjawab, “Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena aromanya?” (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn Abdul ‘Azîz, hlm. 192).

Umar bin Abdul Aziz pun sangat amanah dalam menggunakan fasilitas dan uang negara serta harta kaum Muslim. Ia biasa menggunakan lampu negara saat mengurus urusan kaum Muslim. Setelah selesai, ia segera memadamkan lampu tersebut, lalu menggunakan lampu pribadi (Atsar al-Waradah fî Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz fî al-‘‘Aqîdah 1/164).

Umar bin Abdul Aziz juga adalah orang yang sangat zuhud. Kezuhudannya justr mencapai level tertinggi saat ‘puncak dunia’ berada di genggamannya. Ia meninggalkan semua perkara yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya (Atsar al-Waradah fî ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz fî al-‘Aqîdah, 1/146).

Imam Malik bin Dinar berkata, “Orang-orang berkomentar tentang aku, ‘Malik bin Dinar adalah orang zuhud.’ Padahal yang pantas dikatakan zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. Dunia mendatangi dirinya. Namun, dunia itu ia tinggalkan.” (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/699; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 5/134).

Sebelum beliau berkuasa menjadi khalifah, beliau menjual kekayaannya. Lalu uangnya dimasukkan ke Kas Negara (Atsar al-Waradah fî ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz fî al-Aqîdah, 1/155).

Begitu sederhana dan zuhudnya, Umar bin Abdul Aziz pernah tidak mampu pergi berhaji gara-gara tak cukup memiliki biaya (Shalabi, Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 70).

Umar bin Abdul Aziz pun memiliki akhlak yang luhur. Di antaranya adalah sikap tawaduk (rendah hati). Imam Ibnu Abdil Hakam berkata, “Di antara sifat tawaduknya adalah ia melarang orang-orang berdiri untuk sekadar menyambut kedatangannya.” (Ibn al-Hakam, Sîrah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 34-35).

Sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil. Bahkan keadilannya adalah di antara sifat yang paling menonjol. Penduduk Himsh, misalnya, pernah mendatangi Khalifah Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu, “Amirul Mukminin, saya ingin diberi keputusan sesuai dengan hukum Allah.” Ia bertanya, “Apa yang engkau maksud?” Orang itu berkata lagi, “Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku.” Saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar lalu bertanya kepada Abbas, “Apa komentarmu?” Abbas menjawab, “Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku, Walid bin Abdul Malik.” Mendengar itu, serta-merta Khalifah Umar ra. berkata, “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan daripada hukum Walid bin Abdul Malik.” Ia lalu memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dia rampas (Shalabi ,Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 78.).

Umar bin Abdul Aziz wafat pada Hari Jumat di penghujung bulan Rajab tahun 101 H pada usia 40 tahun. Ia wafat setelah memegang tampuk Kekhilafahan selama kurang lebih dua tahun (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/719; Ibn Hajar, Tahdzîb at Tahdzîb, VII/475).

Ia wafat dengan meninggalkan tiga orang istri, 14 anak laki-laki dan tiga anak perempuan (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 314-315).

Ia wafat dengan meninggalkan warisan hanya 17 dinar (sekitar Rp 35 juta). Harta itu lalu digunakan untuk membiayai pengurusan dan penguburan jenazahnya sebesar 7 dinar (sekitar Rp 15 juta). Yang tersisa dibagikan kepada semua ahli warisnya. Masing-masing dari mereka ada yang hanya mendapat 19 dirham (sekitar Rp 1,2 juta) saja. Padahal saat itu Khalifah Umar sanggup menggaji seorang gubernur sebesar 3 ribu dinar (sekitar Rp 6 miliar).

Namun demikian, meski untuk keluarganya ia meninggalkan warisan yang sedikit, ia meninggalkan Kekhilafahan Islam yang seluruh warganya merasakan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan luar biasa sehingga pada zamannya tak ada seorang pun yang mau menerima zakat!

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Imam Waki

​ Sosok masyhur dengan panggilan Imam Waki’ ini memiliki nama asli Abu Sufyan Waki’ bin al-Jarrah ar-Ruwassi al-Kufi. Ia adalah sosok imam, al-hâfizh dengan hapalan yang sangat kuat, sekaligus ahli hadis yang sangat terkenal dari negeri Irak. Menurut Ahmad bin Hanbal, Waki’ bin al-Jarrah lahir pada tahun 129 H (At-Târikh al-Kabîr, 8/179).Menurut Imam adz-Dzahabi, Waki’ telah aktif menimba ilmu sejak usia dini dan telah mulai mengajarkan ilmu hadis pada usia 30 tahun. Selama hampir 40 tahun Imam Waki’ menjadi tujuan para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri.

Tentang kekuatan hapalannya, Imam Ishaq bin Rahawaih berkata, “Hapalanku dan hapalan Ibn al-Mubarak berat dan betul-betul diupayakan. Adapun hapalan Waki’ adalah murni. Satu kali berdiri ia bisa menyampaikan 700 hadis murni hanya dengan mengandalkan hapalannya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dîl, 1/221).

Imam Ahmad bin Hanbal pun mengakui, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya daripada Waki’ dan tidak ada yang sebanding dengan dia dalam hal ibadahnya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dîl, 1/219).

Imam Ahmad juga berkisah, “Aku tidak pernah melihat Waki’ membawa kitab (saat mengajar).”

Hal senada dinyatakan oleh Ali ibn Hasyram, “Aku belum pernah melihat Waki’ membawa kitab di tangannya. Ia selalu mengandalkan hapalannya.”

Hal senada dinyatakan oleh Yahya bin Mu’in, “Tidaklah aku melihat ada seorang pun yang lebih kuat hapalannya daripada Waki’.”

Karena itu, kata Yahya bin Mu’in, “Aku tidak melihat ulama yang lebih utama ketimbang Waki’ bin al-Jarrah.” (Al-Mustafâd min Dzayl Târîkh Baghdâd, 2/104).

Imam adz-Dzahabi juga memuji Waki’, “Ia adalah seorang imam, al-hâfizh, periwayat yang kokoh, ahli hadis dari Irak dan imam panutan di kalangan para ulama.”

Mengapa Imam Waki’ begitu kuat hapalannya? Salah satu rahasianya diungkap oleh pernyataannya sendiri. Suatu saat ada orang yang bertanya kepada Waki’ tentang obat apakah yang bisa memperkuat hapalan, ia menjawab, “Jika aku ajarkan kepada engkau, maukah engkau amalkan?” Orang itu menjawab, “Ya, demi Allah.” Kata Waki’, “Tinggalkan maksiat! Tak ada obat yang mujarab semisal itu.” (“Mukadimah” tahqîq kitab Az-Zuhd karya Imam Waki’, hlm. 13-69).

Imam Syafii juga pernah berkisah, “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hapalanku. Lalu beliau menunjuki aku agar meninggalkan maksiat. Ia memberitahu aku bahwa ilmu adalah cahaya Allah, sementara cahaya-Nya tidak mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’ânah ath-Thâlibîn, 2/190).

Padahal Imam Syafii adalah orang yang juga kuat hapalannya. Imam Syafii pernah berkata, “Aku telah hapal al-Quran saat umur 7 tahun. Aku pun telah hapal Kitab Al-Muwatha’ (karya Imam Malik) saat umur 10 tahun. Saat berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Tharh at-Tatsrîb, 1/95-96).

Lalu mengapa hapalan Imam Syafii bisa terganggu? Saat itu Imam Syafii mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, “Aku tidak dapat mengulangi hapalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Imam Waki’ berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau renungkan!”

Imam Syafii pun merenung, apa kira-kira dosa yang telah ia perbuat? Ia pun teringat bahwa pernah suatu saat melihat tanpa sengaja betis seorang wanita yang tersingkap saat wanita itu sedang menaiki kendaraannya. Imam Syafii pun segera memalingkan wajahnya.

*****

Imam Waki’ juga dikenal dengan kekhusyukan dan kesungguhannya dalam beribadah. Di antara perkara yang sangat ia perhatikan adalah shalat. Ia berkata, “Siapa yang tidak mendapati takbir pertama (bersama imam dalam shalat berjamaah di masjid, pen.), janganlah terlalu berharap tentang kebaikan dirinya.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, 3/74).

Kata Ibrahim bin Syammas, Waki’ bin Jarrah juga pernah berkata, ”Siapa saja yang tidak bersiap-siap (untuk shalat berjamaah di masjid, pen.) saat waktu shalat hampir tiba, ia berarti tidak memuliakan shalat.”

Namun demikian, meski amat banyak melakukan ibadah, Imam Waki’ memandang bahwa mengajarkan hadis lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah. “Andai shalat (sunnah) itu lebih utama daripada mengajarkan hadis, niscaya aku tidak akan pernah mengajarkan hadis.”

Ia juga berkata, “Kalau bukan karena mengingat besarnya keutamaan shalawat kepada Nabi saw., niscaya aku tidak akan mengajarkan hadis.”

Imam Waki’ pun sangat menjaga lisannya. Imam Ahmad berkata, “Ia tidak pernah membicarakan orang lain.”

Imam Waki’ juga sosok yang tidak suka meminta-minta kepada manusia. Waki’. Ia pun tidak suka dengan popularitas. Ia tidak senang orang lain mengetahui shalat, puasa, atau ibadah yang ia lakukan.

Ada satu kisah menarik terkait Imam Waki’, sebagaimana dituturkan oleh Said bin Manshur: Saat Waqi’ datang ke Makkah dan tubuhnya terlihat gemuk, Fudhail bin ‘Iyadh berkata kepadanya, “Bagaimana Anda bisa gemuk, sedangkan Anda adalah tokoh ulama penduduk Irak?” Imam Waki’ menjawab, “Semua ini karena kegembiraanku terhadap Islam.”

Pada dasarnya Waki’ bin Jarrah adalah sosok ulama yang amat zuhud. Tentang zuhud, ia berkata, “Jika seseorang meninggalkan urusan keduniawian tidak sampai taraf para Sahabat seperti Salman, Abu Dzarr, dll maka aku tidak mengatakan bahwa ia adalah seorang yang zuhud…Bagiku di dunia ini ada yang halal, haram dan syubhat. Yang halal akan dihisab, yang syubhat akan dicela. Oleh karena itu posisikan dunia ini seperti bangkai. Ambilah dari dunia ini untuk sekadar membuatmu bertahan hidup.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ, 11/123, Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, 11/144).

Imam Waki’ meninggal saat menunaikan ibadah haji pada tahun 197 H. Menurut adz-Dzahabi, “Waki’ meninggal dalam usia 68 tahun kurang satu atau dua bulan.” (Syaikh Ahmad Farid, Min A’lami Salaf, hlm. 53-69).

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Masruq bin Al-Ajda’

al-quran

​Nama lengkapnya adalah Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadani al-Wadi’i Abu Aisyah al-Kufi (Abu al-Hajjaj al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 27/451-452).

Mengapa dinamai Masrûq? Karena, kata Al-Hafizh Abu Bakar al-Khatib, “Ada yang mengatakan bahwa pada waktu kecil ia pernah hilang diculik, lalu ditemukan lagi. Karena itu ia dinamakan dengan Masrûq (Yang Diculik) (Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 13/232).

Tentang tanggal kelahirannya tidak diketahui secara persis. Namun diperkirakan ia lahir tahun 1 Hijrah.

Masruq adalah seorang pengembara dan pencari ilmu, sebagaimana dituturkan Amir asy-Sya’bi, “Aku tidak pernah mengetahui ada orang yang lebih banyak berkelana di berbagai tempat untuk mencari ilmu daripada Masruq.”

Tentang keutamaannya, Ibnu Abjar dari asy-Sya’bi berkata, “Masruq lebih pantas memberikan fatwa daripada Syuraih karena Syuraih pun lebih banyak meminta pendapat Masruq.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/82).

Ibnu Sa’ad juga berkata, “Dia tsiqah dan banyak mempunyai hadis yang layak diriwayatkan.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/84).

Masruq juga seorang ahli ibadah, sebagaimana dinyatakan oleh Al-‘Ajali, “Dia banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak.”

Hal ini dikuatkan oleh Abu Nu’aim yang berkata, “Di antara teman-teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya. Ia selalu mengingat banyaknya dosa yang telah ia lakukan. Ia sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan banyak beribadah. Itulah Abu Aisyah (ayah Aisyah), bernama Masruq.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/95).

Sebagaimana tradisi salafush-shalah, Masruq pun tak pernah meninggalkan shalat malam. Dalam hal ini Al-A’masy bin Abi adh-Dhuha berkata, bahwa Masruq biasa bangun malam dan melakukan shalat layaknya seorang ‘rahib’. Dia pernah berkata kepada keluarganya, “Sebutkanlah semua kebutuhan kalian kepadaku sebelum aku melakukan shalat (agar tidak terganggu dalam shalatnya).” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’ 2/96).

Dalam hal itu ia mempunyai kebiasaan sebagaimana dikisahkan Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, “Masruq biasa memasang hijab antara dia dan anggota keluarganya ketika shalat agar khusyuk dalam shalatnya; meninggalkan mereka dan dunia mereka.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 3/96).

Anas bin Sirin, dari istri Masruq, juga berkata, “Masruq banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya bengkak. Sering aku duduk di belakang dia sambil menangis karena tidak tega melihat apa yang ia lakukan.”

Masruq juga banyak berpuasa, sebagaimana juga dinyatakan oleh asy-Sya’bi, “Masruq bin al-Ajda’ pernah jatuh pingsan saat ia berpuasa pada musim kemarau. Kemudian saat siuman, putrinya datang dan berkata, “Ayah, makan dan minumlah!” Ia menjawab, “Apa yang kamu inginkan dariku, putriku? Putrinya berkata, “Aku hanya kasihan melihat ayah.” Masruq berkata, “Putriku, aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah pada hari yang jaraknya mencapai lima puluh ribu tahun (Hari Kiamat).” (Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 13/234).

Masruq tak pernah berhenti beribadah hingga—sebagaimana dikisahkan oleh Abu Ishaq, “Ketika Masruq menjalankan ibadah haji, ia tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan bersujud.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/95).

Masruq adalah orang yang sangat zuhud. Salah satu buktinya, sebagaimana diceritakan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, “Suatu ketika Khalil bin Abdullah bin, salah seorang pembesar di Bashrah, memberikan hadiah uang kepada Masruq sebanyak 30 ribu dinar (lebih dari Rp 60 miliar). Meski saat itu dia sangat membutuhkan, ia tidak menerima uang tersebut.”

Begitu zuhudnya, sebagaimana dikisahkan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir dari ayahnya, “Sungguh ia tidak pernah mengambil gaji dari pekerjaannya sebagai hakim. Ia berpedoman pada firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah membeli jiwa raga kaum beriman dan harta benda mereka dengan surga (QS at-Taubah [9]: 111).” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/96).

Terkait sikap zuhudnya itu, Hamzah bin Abdullah bin Utbah bin Masud berkata, bahwa Masruq pernah berkata, “Tidakkah kalian ingin aku beritahu tentang dunia? Dunia adalah apa yang kalian makan, lalu habis; yang kalian pakai, lalu rusak; yang kalian kendarai, lalu binasa.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/96-97).

Selain zuhud, Masruq pun seorang yang amat pemurah. Tentang ini Abu Ishaq as-Suba’i berkata, “Saat Masruq menikahkan putrinya dengan Saib bin al-Aqra’, Saib memberi Masruq uang 10 ribu dinar (lebih dari Rp 20 miliar). Lalu uang sebanyak itu dipergunakan Masruq untuk membiayai para mujahid Islam dan menyantuni fakir miskin.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 4/66).

Abu Adh-Dhuha berkata, bahwa pernah Masruq menolong seseorang, kemudian datang seorang wanita memberikan hadiah kepada dia. Namun, Masruq tidak suka dan berkata, “Kalaulah aku tahu bahwa sifat seperti itu terdapat dalam dirimu, niscaya aku tidak mau berbicara dengan kamu untuk selamanya. Aku pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Siapa saja yang menolong seseorang untuk dapat mengembalikan haknya atau menghindarkan dia dari suatu kezaliman yang menimpa dirinya, kemudian ia menerima hadiah dari orang yang ditolong itu, maka itu adalah suatu kebinasaan.’” Mendengar itu, orang-orang di sekitarnya berkata, “Kami tidak menganggap kebinasaan kecuali jika ia bertujuan menyuap.” Masruq menimpali, “Jika berniat menyuap, itu adalah suatu kekufuran.’” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/81).

Masruq juga seseorang yang sangat mencintai kebenaran dan keadilan. Terkait ini Asy-Sya’bi berkata bahwa pernah Masruq bertutur, “Sungguh saat aku memutuskan suatu hukum di pengadilan yang sesuai dengan kebenaran atau aku mendapatkan kebenaran (dalam berijtihad), itu lebih aku sukai daripada berjuang selama setahun di jalan Allah.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/82).

Terakhir, sebagaimana dinyatakan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, Masruq pernah memberikan nasihat, “Tidak ada yang lebih baik bagi seorang Mukmin daripada kuburan yang dapat ia jadikan tempat beristirahat dari kebisingan dunia dan di dalamnya ia aman dari siksa Allah.” (Al-Ashbahani, Hilyah Al-Awliyâ’, 2/97).

Menurut Sufyan bin Uyainah, Masruq meninggal dunia pada tahun 63 Hijrah (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/84).

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Amanat KKN v.2

​Assalamu’alaykum. Bismillah. Pengingat dari saya untuk adik2 mahasiswa/i Uin Suska Riau yang mau berangkat KKN :

1. Berdo’a kepada Allah sebelum berangkat dan luruskan niat. Berdoa agar selamat, berkah, penuh rahmat, di ridhoi Allah, hasil gemilang dari awal hingga akhir.

2. Siapkan program2 yang akan dijalankan.

3. Bgun dan jaga komunikasi dan hubungan yang baik dgn masyarakat dan perangkatnya RT/RW dsb.

4. Jaga interaksi dengan lawan jenis sebatas yang diperlukan dan dibutuhkan.

5. Jangan campur baur antar Lk dan Pr (ikhtilat) dan berdua-duaan antar Lk dan Pr (khalwat).

6. Tutup aurat di hadapan non mahram dan tundukkan pandangan.

7. Tinggallah di rumah terpisah antara Lk dan Pr nya.

8. Tinggalkan manfaat dan kontribusi di desa/tempat KKN ketika selesai.

9. Jaga nama baik kampus.

10. Tetap menjalin komunikasi kepada masyarakat disana selepas KKN.

Smoga bermanfaat. Semoga selamat smpai tujuan.

Yendri, Pekanbaru

8/7/17 – 14/10/38

Imam Az-Zuhri

al-quran

​Imam az-Zuhri bernama lengkap Abu Bakr Muhammad bin Muslim Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab al-Quraisyi az-Zuhri. Ia lahir pada tahun 51 H. Sebagian riwayat menyebut ia lahir pada tahun 56 H atau 58 H, yakni pada akhir kepemimpinan Khalifah Muawiyah. Imam az-Zuhri tinggal di Ailah, sebuah desa antara Hijaz dan Syam. Reputasinya sebagai ulama besar menyebar luas sehingga ia menjadi rujukan bagi para ulama lain pada zamannya.

Imam az-Zuhri memiliki banyak keutamaan. Ia terkenal sebagai seorang yang alim, sabar, teguh, toleran, zuhud, mulia, murah hati, dermawan dan memiliki akhlak terpuji.

Tentang keilmuannya, Abu Hatim berkata, “Orang yang paling tinggi ilmunya di antara para sahabat Anas bin Malik adalah Az-Zuhri.” (Adz-Dzahabi, Tadzkirah al-Huffâzh, 5/334).

Imam az-Zuhri adalah salah seorang ulama ahli hadis dari kalanghan tâbi’in.

Menurut Imam al-Bukhari, lebih dari 2000 hadis diriwayatkan oleh az-Zuhri. Beberapa di antaranya tertulis dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim. Menurut Imam al-Bukhari pula, sanad hadis terkuat adalah yang berasal dari jalur Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya. Adapun menurut Abu Bakar bin Abi Syaibah, sanad yang paling sahih adalah Az-Zuhri, dari Ali bin Husain, dari bapaknya, dari kakeknya (Ali bin Abi Thalib) (Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, 9/445).

Menurut Imam as-Suyuthi, Imam az-Zuhri adalah orang pertama yang membukukan hadis atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Banyak ulama memuji Imam az-Zuhri, Amr bin Dinar, misalnya berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang hadis dibandingkan dengan Ibnu Syihab (Imam az-Zuhri).” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’).

Ahmad bin Hanbal juga berkata, “Az-Zuhri adalah orang yang paling kompeten dalam hadis dan yang paling baik sanad-nya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 5/334).

Imam al-Laits pun menyatakan, “Aku tidak melihat seorang alim pun yang lebih luas ilmunya dibandingkan dengan Imam az-Zuhri. Tatkala ia berbicara tentang targhîb (nasihat dan anjuran), Anda akan berkomentar, ‘Tidak ada yang terbaik kecuali dia.’ Saat ia berbicara tentang sejarah Arab dan silsilah nasab, Anda akan berkomentar, ‘Tidak ada yang terbaik kecuali dia.’ Saat ia berbicara tentang al-Quran dan al-Hadis, engkau pun akan mengatakan yang serupa.” (Adz-Dzahabi, Tadzkirah al-Huffâzh, 3/109).

Semua kehebatan keilmuan Imam az-Zuhri tentu karena sejak dini ia amat mencintai ilmu. Bahkan dalam pandangannya, “Tidaklah Allah SWT diibadahi dengan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan ilmu.”

Karena itu ia sanggup melakukan banyak perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Jika ia pulang ke rumah, ia pun langsung bergelut dengan buku-buku sehingga sering melupakan urusan dunia yang lain. Sang istri sampai cemburu hingga pernah berdiri di sampingnya seraya berkata,

“Demi Allah, kecemburuanku pada buku-buku ini lebih besar daripada kepada tiga wanita yang menjadi maduku.” (Ibnu Khalikan, Wafayât al-A’yân, 4/177-178).

Kehebatan keilmuan Imam az-Zuhri tentu juga karena beliau memiliki daya hapal yang kuat. Terkait itu, Hisyam bin Abdul Malik, Khalifah Kesepuluh Daulah Umayah, pernah  menguji seberapa kuat hapalan Imam az-Zuhri. Sang Khalifah ingin az-Zuhri mendiktekan hadis kepada anaknya dengan dibantu seorang juru tulis tanpa melihat catatan. Dengan lancarnya Imam az-Zuhri mendiktekan empat ratus hadis Rasulullah saw. tanpa sedikit pun keliru.

Imam az-Zuhri pun amat cermat menilai sanad hadis. Dialah yang mendorong agar perawi menyebutkan sanad ketika meriwayatkan hadis. Sebab, tanpa sanad, siapa pun bisa berbicara apa saja yang dimaui tanpa diketahui apakah itu hadis sahih atau bukan.

Imam az-Zuhri sekaligus merupakan sosok pengabdi hadis sejati. Selain menghapal dan menghimpun lebih dari dua ribu hadis, ia juga banyak mengkader murid-muridnya untuk menguasai hadis dengan membiayai dan memfasilitasi segala keperluan yang mereka butuhkan. Dalam hal ini Imam Malik menuturkan, Imam az-Zuhri mengumpulkan orang-orang yang belajar hadis dan memberikan makanan dan perlengkapan lainnya pada musim dingin atau musim panas.

Imam az-Zuhri juga sosok yang amat berwibawa. Imam Malik pernah memberikan kesaksian akan kewibawaan Imam az-Zuhri, gurunya. “Jika Imam az-Zuhri memasuki Madinah, tak seorang pun ahli hadis yang berani menyampaikan hadis di depannya sampai ia beranjak keluar dari kota itu,” papar Imam Malik (Lihat: Ibn Hajar Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, 9/445).

Imam az-Zuhri tak hanya mengantungi banyak ilmu, tetapi sekaligus mengamalkan ilmunya. Suatu ketika Muhammad bin al-Munkadir melihat Imam az-Zuhri lalu berkata, “Aku melihat di antara dua mata az-Zuhri ada tanda bekas sujud.” Ini menunjukkan banyaknya ibadah sang imam.

Amru bin Dinar juga pernah memuji gurunya sebagai orang yang zuhud, “Tidak ada dinar dan dirham yang paling hina kecuali di sisinya. Tidaklah dinar dan dirham di sisinya kecuali bagaikan kotoran hewan saja.”

Imam az-Zuhri pun seorang yang amat dermawan. Suatu saat ia berada di tengah-tengah suatu kaum yang mengeluh, “Kami mempunyai 18 wanita yang sudah lanjut usia. Mereka tak mempunyai pelayan.”

Seketika Imam az-Zuhri segera memberikan 1000 dirham untuk para wanita lanjut usia itu dan menyiapkan 1000 dirham lainnya untuk pelayan mereka (total lebih dari  Rp 100 juta, pen.).

Perhatikan juga kedalaman ilmu fikihnya. Ia pernah berbuka pada puasa Ramadhan ketika safar. Namun, saat Hari Asyura’ ia safar, ia justru berpuasa. Saat ditanya, mengapa ia berbuka dan kadang berpuasa ketika safar, ia menjawab, “Sungguh puasa hari-hari Ramadhan bisa diganti dengan hari lain. Adapun puasa Hari Asyura’ tidak.”

Di antara tips Imam az-Zuhri dalam memperdalam ilmu dan menjadikan ilmunya tetap terjaga adalah dengan mengajarkan ilmu kepada masyarakat luas. Sering ia terjun ke tengah-tengah masyarakat perkampungan untuk mengajarkan dan menyeberluaskan ilmunya agar ilmunya tetap terpelihara.

Imam az-Zuhri  wafat di Sya’bad pada tahun 123 H. Ada yang mengatakan ia wafat tahun 125 H.

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Ibrahim An-Nakha’i

al-quran

Sebagaimana dinyatakan oleh Imam an-Nawawi dalam Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, juga oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Tahdzîb at-Tahdzîb, Ibrahim an-Nakha’i bernama lengkap Abu Imran Ibrahim bin Yazid bin Qais an-Nakha’i al-Kufi. Ia adalah seorang ulama besar dan mulia dari kalangan tâbi’in yang tinggal di Kufah.

Ia sering menemui Aisyah ra. Namun, tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa ia menerima hadis dari Aisyah ra. Ibrahim an-Nakha’i menerima hadis dari para ulama tâbi’îndi antaranya adalah AIqamah, al-Aswad, Abdurahman, Masruq dan lain lainnya.

Hadis-hadisnya diriwayatkan dari segolongan tâbi’în, di antaranya adalah Abu Ishaq as-Suba’i, Habib bin Abi Tsabit, Samak bin Harb, al-A’masy dan Hammad bin Abu Sulaiman—gurunya Abu Hanifah.

Ibrahim an-Nakha’i memang tidak meriwayatkan hadis dari sahabat meski berjumpa dengan sebagian dari mereka. Namun, ia mempunyai kedudukan yang tinggi dalam hadis dan ilmu riwayat.

Ibrahim an-Nakha’i berguru kepada banyak ulama antara lain: Masyruq, Alqamah bin Qais, Ubaidah as-Salmani, Abu Zur’ah, al-Bajali, Khaitsamah bin Abdurrahman, Rabi’ bin Khutsaim, Abu Sya’tsa’ al-Muharibi, Sahm bin Minjab, Suwaid bin Ghaflah, Qadhi Suraih, Suraih bin Arthah, Abu Ma‘mar Abdullah bin Sakhbar, Ubaid bin Nadhalah, Umarah bin Umair, Abu Ubaidah bin Abdullah, Abu Abdurrahman as-Sulami, Abdurrahman bin Yazid, Hammam bin al-Harits dan beberapa guru dari kalangan tâbi’in senior.

Ia pun memiliki banyak murid antara lain: Hakam bin Utaibah, Amru bin Murrah, Hammad bin Abi Sulaiman, Simak bin Harb, Mughirah bin Miqsam, Abu Ma’syar bin Ziyad bin Kulaib, Abu Husain, Utsman bin Ashim, Manshur bin Mu’tamar, Ubaidah bin Muattib, Ibrahim bin Muhajir, Harits al-Uklai, Sulaiman Al-A’masi, Ibn Aun, Atha’ bin Saib, Abdurrahman bin Sya’tsa’, Abdurrahman bin Syubramah, Ali bin Mudrak, Fudhail bin Amru, Washil bin Hayyan, Zubaid al-Yami, Muhammad al-Khalid, Muhammad bin Suqah, Yazid bin Abi Ziyad, dll.

Ibrahim an-Nakha’i adalah ulama yang memiliki kepribadian menakjubkan. Hal ini disandarkan dari beberapa sanjungan para ulama kepada dirinya. Thalhah bin Musharri, misalnya, berkomentar, “Tidak ada seorang pun di Kufah yang lebih aku kagumi daripada Ibrahim dan Khaitsamah.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Ibrahim adalah orang cerdas. Ia adalah salah satu dari dua mufti Kufah (satunya lagi adalah Asy Sya’bi).”

Seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa ia adalah seorang yang tsiqah dan seorang ahli dalam bidang fikih (Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, 4/520-529).

Ibrahim an-Nakha’i digambarkan sebagai ulama sepandai gurunya, Ibnu Mas’ud. Kontribusinya dalam periwayatan hadis cukup banyak, melebihi ulama tâbi’în lainnya semisal ‘Alqamah, al-Aswad, Masruq, dan yang lainnya. Kecerdasannya begitu mumpuni. Ulama Kufah ini menjadi referensi kajian hadis di kalangan tâbi’în.

Terkait itu, Ismail bin Abi Khalid berkata, ”Suatu ketika Asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha’i dan Abu adh-Dhuha berkumpul di sebuah masjid untuk mengkaji hadis. Jika mereka mendapatkan hal-hal yang tidak diketahui, mereka biasa mengarahkan pandangan kepada Ibrahim an-Nakha’i.”

Begitu banyak ulama yang menyanjung dan memberikan pengakuan kepada Aibrahim an-Nakha’i. Dalam kitab Tadzkirah al-Huffâzh diceritakan, Said bin Jubair pernah didatangi sekelompok orang yang hendak meminta fatwa kepada dirinya. Alih-alih memberi fatwa, Said malah berkata, ”Kalian meminta fatwa kepadaku, padahal di antara kalian ada Ibrahim an-Nakha’i.”

Dalam Al-Jarh wa at-Ta’dîl dikisahkan, seseorang mendatangi Abu Wail untuk meminta fatwa. Abu Wail menyuruh orang itu untuk mendatangi Ibrahim an-Nakha’i dan berkata, “Tanyailah ia, lalu beritahukan kepadaku apa yang ia katakan.”

Tidak hanya menguasai ilmu, khususnya hadis, Ibrahim juga ulama yang ahli ibadah. Ia dikenal rajin berpuasa Nabi Dawud. Setiap malam, Ibrahim pun biasa khusyuk melaksanakan qiyâmul-layl. Setiap kali hendak shalat malam di masjid, Ibrahim selalu mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian. Begitu asyiknya qiyâmul-layl, Ibrahim tidak pernah meninggalkan masjid kecuali setelah fajar menjelang. Semangatnya dalam berinteraksi dengan al-Quran pun sangat luar biasa. Ia biasa membaca dan men-tadaburi al-Quran hampir setiap waktu.

Ibrahim an-Nakhai juga seorang ulama yang berakhlak mulia. Ada satu kisah menarik yang menunjukkan betapa mulianya akhlak Ibrahim an-Nakha’i.

Sebagaimana diketahui, Ibrahim an-Nakha’i adalah seorang yang buta sebelah matanya. Ia memiliki murid yang penglihatannya juga lemah bernama Sulaiman bin Mahran. Imam Ibnul Jauzi mengisahkan dalam kitabnya, Al-Muntazham, suatu hari mereka berdua menyusuri jalanan Kota Kufah untuk mencari sebuah masjid. Saat keduanya berada di jalanan yang sama, Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Sulaiman, bisakah kamu melewat jalan yang berbeda dengan saya? Sebab, saya khawatir bila kita melewati jalanan yang sama dan bertemu dengan orang-orang bodoh lalu mereka berkata, “Ada orang buta sebelah (A’war) menuntun orang yang lemah pandangannya (A’masy).”

Sulaiman lalu berkata, “Abu Imran, memangnya mengapa dengan Anda jika Anda mendapat pahala, sedangkan mereka mendapat dosa?”

Ibrahim an-Nakha’i menjawab, “Mahasuci Allah. Jika kita selamat dan mereka juga selamat, itu jauh lebih baik daripada kita mendapat pahala, sedangkan mereka mendapat dosa.” (Ibn al-Jauzi, Al-Muntazham fî at-Târîkh, 7/15).

Di antara kemuliaan akhlak Ibrahim an-Nakha’i adalah sikap tawaduknya. Terkait itu, dikisahkan bahwa pernah ada seorang pemuda yang mendatangi Ibrahim untuk bertanya mengenai sesuatu hal, namun Ibrahim balik bertanya, ”Apakah engkau tidak mendapatkan seseorang untuk ditanyai selain diriku?”

Demikianlah kemuliaan Ibrahim an-Nakha’i hingga akhir hayatnya. Ketika ajal menjelang, Ibrahim sempat menangis. Para kerabat yang ada di sekitanya berkata, ”Apa yang membuat Anda menangis?”

Ibrahim menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Saat ini aku sedang menantikan utusan Allah (malaikat) yang akan memberi kabar; apakah surga ataukah neraka.”

Ibrahim an-Nakhai’ akhirnya wafat pada tahun 96 H dalam usia 50 tahun.

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh[Arief B. Iskandar]

Syu’bah bin Al-Hajjaj

al-quran

Nama lengkapnya adalah Syu’bah bin al-Hajjaj bin Ward al-’Ataki al-Azdi Abu Bistham al-Wasathi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Syu’bah bin al-Hajjaj. Ia dikenal sebagai salah seorang ulama hadis terkemuka. Syu’bah lahir pada tahun 80 H di bawah kekuasaan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, lalu menetap di Bashrah (Irak).

Syu’bah bin al-Hajjaj banyak dipuji oleh para ulama. Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya, berkomentar, “Tidak ada pada masa Syu’bah orang yang seperti dia dalam bidang hadis.”

Imam Syafii juga berkata, “Andaikata tidak ada Syu’bah, orang Irak tidak banyak mengetahui hadis.”

Bahkan Imam adz-Dzahabi menegaskan,  “Syu’bah adalah Al-Hâfizh al-Kabîr, ulama besar pada zamannya, sekaligus ‘Amirul Mukminin’ di bidang hadis.” (Adz-Dzahabi, Târîkh al-Islâm, 4/71).

Karena kepakaran dan penguasaannya atas ribuan hadis, saat Syu’bah wafat, tidak aneh jika Imam Ibnu al-Mubarak berkomentar, “Pada hari ini hadis telah mati (karena kematian Syu’bah, pen.).”

Hal ini wajar karena menurut Abu Abdullah bin Hakim, “Syu’bah belajar hadis kepada 400 ulama dari generasi tâbi’in.” (Lihat: An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât,  I/244; Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, IV/358).

Syu’bah bin al-Hajjaj memang amat giat dalam menuntut ilmu. Demi meraih ilmu pula, Syu’bah biasa mengorbankan apa saja. Terkait ini, ia pernah bercerita, “Aku pernah menjual bejana warisan ibuku seharga tujuh dinar (sekitar Rp 15 juta) untuk biaya belajar.” (Adz-Dzahabi, Tadzkirah al-Huffâzh, 1/195).

Kegigihan dan pengorbanan Syu’bah dalam belajar juga dikisahkan oleh Imam Ahmad ra., dalam Kitab Al-’Ilal bi Ma’rifah ar-Rijâl, “Syu’bah pernah tinggal di tempat Hakam bin Utbah selama 18 bulan (sampai kehabisan bekal, pen.) sehingga ia harus menjual penyangga dan tiang rumahnya untuk biaya belajar.”

Syu’bah bin al-Hajjaj termasuk ulama hadis yang sangat ketat dalam periwayatan hadis. Tentang ini, Abu Al-Walid berkata: Hammad bin Zaid pernah berkata kepadaku, “Jika terjadi perselisihan antara aku dan Syu’bah, aku akan mengikuti pendapatnya.” Aku pun bertanya kepada dia, “Mengapa bisa seperti itu?” Ia menjawab, “Karena Syu’bah tidak cukup mendengar setiap hadis dengan dua puluh kali, sedangkan aku mencukupkan hanya sekali mendengar.”

Tentang betapa ketatnya Syu’bah dalam meriwayatkan hadis, Abu al-Walid pun berkata: Aku pernah bertanya kepada Syu’bah tentang suatu hadis. Dia menjawab, “Sungguh aku tidak akan mengatakan sedikitpun kepadamu tentang hadis itu.” Aku bertanya kepada dia, “Mengapa?” Ia menjawab, “Karena aku hanya mendengar hadis itu sebanyak satu kali.”

Ketatnya Syu’bah dalam meriwayatkan hadis boleh jadi karena ia amat khawatir jika sampai ia keliru. Ini antara lain tampak dari ucapannya, “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan, yang dapat memasukkan diriku ke dalam azab neraka, selain meriwayatkan hadis (secara keliru, pen.).” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 7/213).

Sebagai seorang ulama hadis terkemuka, Syu’bah bin al-Halaj tentu memiliki banyak murid. Namun, Syu’bah bin al-Hajjaj termasuk ulama yang tidak suka kepada murid-muridnya yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka pelajari. Terkait ini, Imam Abu Dawud berkisah: Suatu ketika kami sedang berada di rumah Syu’bah untuk menulis dan menyusun kitab. Tiba-tiba, seorang pengemis datang dan Syu’bah berkata, “Bersedekahlah kalian untuk pengemis itu! Sungguh, Abu Ishaq pernah menyampaikan kepadaku suatu hadis dari Abdullah bin Mi’qal, dari Adi bin Hatim yang berkata bahwa Rasulullah telah  bersabda, ‘Jagalah diri kalian dari azab neraka sekali pun dengan (bersedekah) sebutir kurma.’” (HR Muttafaq ‘alaih).

Namun, meski telah disampaikan hadis tersebut oleh Syu’bah bin al-Hajjaj, tetap saja tidak ada yang mau mengeluarkan sedekah. Lalu Syu’bah berkata lagi, “Sungguh, Amir bin Murrah pernah menyampaikan satu hadis kepadaku, dari Haitsamah, dari Adi bin Hatim yang pernah berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Jagalah diri kalian dari azab neraka sekalipun dengan (bersedekah) setengah biji kurma. Jika kalian tidak memilikinya, (bersedekahlah) dengan berkata yang baik.’” (HR al-Bukhari).

Meski demikian, tetap saja tidak ada yang mau mengeluarkan sedekah. Lalu Syu’bah berkata untuk ketiga kalinya, “Bersedekahlah kepada pengemis itu! Sungguh, Muhalla adh-Dhabi pernah menyampaikan satu hadis kepadaku, dari Adi bin Hatim yang berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Jagalah diri kalian dari azab neraka sekali pun dengan (bersedekah) setengah biji kurma. Jika kalian tidak memilikinya, maka (bersedekahlah) dengan berkata yang baik.’” (HR al-Bukhari).

Lagi-lagi tidak ada satu pun dari para santrinya yang mau mengeluarkan sedekah. Kemudian Syu’bah berkata dengan nada marah, “Pergilah kalian dari rumahku! Sungguh, aku tidak akan mengajarkan hadis kepada kalian selama tiga bulan!”

Setelah itu Syu’bah masuk ke dalam rumahnya. Ia lalu mengambil makanan yang ada dan memberikan makanan itu kepada pengemis itu sambil berkata, “Ambillah makanan ini. Sungguh ini adalah jatah makanan kami hari ini.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ, 7/227-228).

Kisah di atas sekaligus menunjukkan betapa dermawannya Syu’bah bin al-Hajjaj. Ya, Syu’bah memang sangat gemar bersedekah kepada kaum miskin dan yang membutuhkan. Padahal ia sendiri bukan orang kaya. Terkait ini, Abu Dawud ath-Thayalisi berkisah: Ketika kami sedang bersama Syu’bah, Sulaiman bin al-Mughirah datang dalam keadaan menangis. Syu’bah bertanya kepada dia, “Apa yang membuat Anda menangis, wahai Abu Said?” Ia menjawab, “Keledaiku mati sehingga pemasukanku pun menjadi hilang.” Syu’bah bertanya, “Berapa kamu membeli keledai itu?” Ia menjawab, “Tiga dinar (sekitar Rp 6 juta, pen.).” Syu’bah lalu berkata, “Kebetulan aku mempunyai tiga dinar. Sungguh aku tidak memiliki lebih dari itu.” Syu’bah lalu memberikan uang tiga dinar kepada Abu Said dan berkata, “Gunakanlah uang ini untuk membeli keledai dan tidak perlu bersedih lagi.”

Kegemarannya bersedekah juga ditegaskan oleh Yahya bin Said al-Qahthani, “Syu’bah adalah orang yang paling gemar memberi selama ia masih memiliki harta untuk diberikan kepada orang lain,” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ, 7/211).

Syu’bah bin al-Hajjaj juga terkenal sebagai ulama yang ahli ibadah. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Bahr al-Bakrawi, “Aku tidak melihat orang yang kuat beribadah seperti Syu’bah. Ia beribadah kepada Allah hingga punggungnya menjadi bungkuk (karena banyak dan lamanya rukuk) dan kurus kering (karena banyaknya puasa).”

Syu’bah bin Hajjaj wafat pada tahun 160 H pada umur 77 tahun (Lihat: An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât,  I/244; Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, IV/358).

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Imam Ali Zainal Abidin

al-quran

​Imam Ali Zainal Abidin bernama asli Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia adalah cicit Nabi Muhammad saw. Neneknya adalah Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saw. Ia kadang disebut dengan Abu Husain atau Abu Muhammad (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb fi az-Zuhd wa ar-Raqâ’iq wa al-Adâb, 1/702).

Ali bin al-Husain dilahirkan di Madinah pada tahun 38 H/658-659 M menurut mayoritas riwayat yang ada. Riwayat lainnya menyatakan ia dilahirkan pada tanggal 15 Jumada al-Ula 36 H.

Terkait ibunya, salah satu riwayat masyhur menyebutkan bahwa ibunya bernama Syahrbanu, putri Yazdigird, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia. Oleh karena itu Ali Zainal Abidin dijuluki pula “Ibn al-Khiyaratayn”, yaitu “Anak dari Dua Orang Pilihan”, yaitu Quraisy di antara orang Arab dan Persia di antara orang non-Arab.

Ali bin al-Husain dikenal dengan julukan “Zayn al-‘Abidîn (Hiasan Para Ahli Ibadah)” karena kemuliaan pribadi dan ketakwaannya. Ia pun digelari dengan “As-Sajjâd” karena begitu banyaknya ia beribadah dan bersujud kepada Allah SWT, baik siang maupun malam (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb, 1/702).

Terkait ibadahnya, diriwayatkan bahwa sering setiap kali hendak menunaikan shalat, wajahnya pucat dan badannya gemetar. Saat ditanya, “Mengapa demikian?” Ia menjawab, “Tidakkah engkau tahu, di hadapan siapa aku berdiri shalat dan kepada siapa aku bermunajat?!” (Asy-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, 1/27).

Namun demikian, Ali Zainal Abidin juga pernah bertutur, “Ibadah orang merdeka itu tidak lain didorong oleh rasa syukur, bukan karena takut dan harap.” (Asy-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, 1/27).

Karena itu sebagai bentuk rasa syukurnya, Ali bin Husain banyak beribadah setiap hari. Ia pun tidak pernah meninggalkan shalat malam, baik saat muqimataupun dalam keadaan safar (Asy-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, 1/27).

Imam Ali Zainal Abidin juga terkenal dengan keagungan akhlaknya. Sejak kecil Ali Zainal Abidin telah menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji. Keutamaan adab, ilmu dan ketakwaan telah menyatu dalam dirinya. Di dalam Hilyah al-Awliyâ’, Abu Nuaim menuturkan bahwa Sayyid al-Musayib pernah di tanya oleh seseorang?” Menurut Anda siapa orang yang paling wara’?” Sayyid al-Musayyib balik bertanya, “Tahukan Anda Ali bin al-Husain?” Sungguh tidak ada yang lebih wara’ dari dirinya.” (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb, 1/702).

Terkait dengan keagungan akhlaknya, jika seseorang menjelek-jelekan dirinya, misalnya, ia tidak marah. Ia akan segera mendatangi orang itu di rumahnya. Lalu secara baik-baik ia akan berkata, “Saudaraku, jika memang yang engkau katakan tentang aku itu benar, semoga Allah mengampuni diriku. Namun, jika apa yang engkau katakan tentang diriku batil, semoga Allah mengampunimu.” (Asy-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, 1/27).

Dalam kisah lain disebutkan, suatu hari, ketika keluar dari masjid, seorang lelaki mencaci Imam Ali Zainal Abidin. Spontan orang-orang di sekitarnya berusaha memukul lelaki tersebut, tetapi Imam Ali Zainal Abidin mencegah mereka. Lalu ia berkata kepada orang itu, “Apa yang engkau belum ketahui tentang diriku? Apakah engkau membutuhkan sesuatu?” Mendengar ucapan lemah-lembut itu, orang itu merasa malu. Apalagi Imam Ali Zainal Abidin kemudian memberi dia uang 1000 dirham (sekitar Rp 60 juta). Seketika lelaki itu berkata, “Saya bersaksi, engkau benar-benar cicit Rasulullah saw.” (Asy-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, 1/28).

Meski Imam Ali Zainal Abidin diklaim sebagai salah seorang imam oleh kalangan Syiah, penghormatannya terhadap para sahabat Rasulullah saw. seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, dan yang lainnya luar biasa. Sikapnya ini tentu bertolak belakang dengan sebagian kalangan Syiah yang amat anti dan bahkan membenci para sahabat Nabi saw. yang mulia, khususnya Abu Bakar dan Umar. Terkait ini, diriwayatkan bahwa suatu saat ia menerima beberapa orang tamu dari Irak. Mereka lalu membicarakan keburukan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Setelah mereka selesai bicara, Imam Ali Zainal Abidin bertanya, “Apakah kalian termasuk kaum Muhajirin yang di dalam al-Quran surat al-Hasyr ayat 8 dinyatakan: Mereka yang diusir dari kampung halaman dan dipaksa meninggalkan harta benda mereka, hanya karena mereka ingin memperoleh karunia Allah dan keridhaan-Nya?” Mereka menjawab, “Bukan.” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian termasuk kaum Anshar yang dinyatakan dalam al-Quran surat al-Hasyr ayat 97: Mereka yang tinggal di Madinah dan telah mengimani Allah sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Mereka itu mencintai dan bersikap kasih sayang kepada orang-orang yang datang berhijrah kepada mereka. Mereka juga tidak mempunyai pamrih apa pun dalam memberikan bantuan kepada kaum Muhajirin. Bahkan mereka lebih mengutamakan orang-orang yang hijrah daripada diri mereka sendiri, kendatipun mereka berada dalam kesusahan?” Mereka menajwab, “Bukan.” Imam Ali Zainal Abidin lalu berkata, “Kalau begitu berarti kalian tidak termasuk ke dalam salah satu dari kedua golongan tersebut.” Selanjutnya Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Aku bersaksi bahwa kalian bukanlah orang yang dimaksud dalam firman Allah: Duhai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman (QS al-Hasyr [59]:10). Karena itu keluarlah kalian dari rumahku, Allah murka kepada kalian.” (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb, 1/705).

Imam Ali Zainal Abidin dikenal sebagai orang yang amat ikhlas dalam beramal. Ia sering menyembunyikan amal kebaikannya. Ia, misalnya, sering memikul tepung dan roti di punggungnya untuk dibagi-bagikan kepada keluarga-keluarga miskin di Madinah. Menurut adz-Dzahabi dalam Siyar al-A’lam an-Nubalâ’, hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, bahkan tanpa diketahui oleh mereka yang diberi. Orang-orang miskin itu tak pernah tahu siapa yang selama ini telah ‘menghidupi’ mereka. Mereka baru tahu setelah tidak ada lagi yang mengirim gandum dan roti hampir setiap malam ke rumah-rumah mereka sejak Ali Zainal Abidin wafat.

Mengapa ia melakukan itu? Tidak lain karena ia yakin dengan kata-katanya sendiri, “Sedekah di kegelapan malam bisa menghapus murka Allah SWT.” (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb, 1/711).

Ali Zainal Abdin juga termasuk ulama yang gemar melakukan amar makruf nahi mungkar. Terkait ini, ia pernah berkata, “Siapa saja yang meninggalkan amar makruf nahi mungkar, ia seperti melemparkan al-Quran ke balik punggungnya.” (Muhammad Uwaydhah, Fashl al-Khithâb, 1/709).

Imam Ali Zainal Abidin wafat di Madinah pada tanggal 25 Muharram 95 H/713 M (dalam usia 57 tahun); ada pula yang menyatakan wafat pada 25 Muharram 95 H. Ia disemayamkan di Pekuburan Baqi’.

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

Imam Al-Bukhari

al-quran

Imam al-Bukhari bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah al-Bukhari al-Ja’fi. Biasa dipanggil dengan panggilan Abu ‘Abdillah. Ia lahir di Bukhara—salah satu daerah di Rusia—pada bulan Syawal tahun 194 H.

Ayah Imam al-Bukhari adalah seorang ulama besar dalam bidang hadis. Ia wafat saat al-Bukhari masih kecil sehingga ia dibesarkan sendirian oleh sang ibu. Ibunya adalah seorang wanita shalihah yang taat beribadah.

Saat kecil kedua mata al-Bukhari buta. Suatu ketika, ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepada dirinya, “Ibu, sungguh Allah SWT telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya ibunya mendapati penglihatan anaknya telah sembuh (Al-Hafizh Ibn Hajar, Hadyu SariMuqaddimah Fath al-Bâri’ Syarh Shahîh al-Bukhârî, hlm. 640).

Imam al-Bukhari berguru kepada banyak ulama, khususnya ulama ahli hadis. Ini tercermin dari pengakuannya, “Aku telah menulis hadis dari 1000 lebih syaikh. Dari setiap syaikh itu, aku menulis 1000 hadis bahkan lebih. Tidaklah ada hadis padaku kecuali aku menyebutkan sanad-nya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 12/407; Ibn Katsir, Al-Bidâyah, 11/22; Târîkh Baghdâd, 2/4).

Sebagaimana gurunya yang banyak, Imam al-Bukhari juga memiliki banyak murid. Sebagian mereka kemudian menjadi ulama ahli hadis juga seperti Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, Imam ad-Darimi, dll.

Sebagai ulama hadis terkemuka, Imam al-Bukhari memiliki daya hapal yang sangat kuat. Bahkan banyak ulama yang menyebutkan untuk langsung menghapal suatu kitab, ia cukup hanya dengan sekali membaca kitab tersebut. Terkait itu, Hasyid bin Ismail berkisah: Dulu al-Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah. Saat itu ia masih kecil. Ia tidak pernah mencatat. Hal itu berlangsung beberapa hari lamanya. Setelah enam hari berlalu, kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu ia berkata, “Kalian merasa memiliki lebih banyak hadis daripada aku. Coba kalian tunjukkan kepadaku hadis-hadis yang telah kalian tulis.” Kami lalu mengeluarkan catatan-catatan hadis tersebut. Ternyata ia menambahkan hadis lain lagi hingga mencapai 15.000 hadis. Ia membacakan hadis-hadis itu semua dengan ingatan (di luar kepala). Kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman pada hapalannya (Al-Hafizh Ibn Hajar, Hadyu Sari, hlm. 641).

Banyak ulama penasaran dengan kehebatan daya hapal Imam al-Bukhari. Suatu ketika Imam al-Bukhari datang ke Baghdad. Para ulama hadis yang ada di sana mendengar kedatangannya. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menguji kekuatan hapalannya. Mereka lalu mempersiapkan 100 hadis yang telah dibolak-balikkan isi hadis dan sanad-nya; matan yang satu ditukar dengan matan yang lain; sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian 100 hadis ini dibagikan kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadis yang berbeda kepada Imam al-Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepada Imam al-Bukhari tentang hadis yang mereka bawakan, ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak tahu hadis-hadis itu.” Setelah sepuluh orang ini selesai, gantian Imam al-Bukhari memberikan penjelaskan kepada 10 orang tersebut satu-persatu, “Hadis yang Anda bawakan itu bunyinya demikian. Padahal  yang benar berbunyi demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang ulama hadis tersebut. Semua sanad dan matan hadis ia kembalikan ke tempatnya masing-masing. Ia pun mampu mengulangi hadis yang telah dibolakbalikkan itu hanya dengan sekali dengar. Akhirnya, para ulama tersebut mengakui kehebatan hapalan Imam al-Bukhari dan tingginya kedudukannya (Al-Hafizh Ibn Hajar, Hadyu Sari, hlm. 652. Lihat juga: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ,12/411, Ibn Katsir, Al-Bidâyah, 11/22).

Karena kuatnya daya hapal Imam al-Bukhari, wajar jika ia pernah mengklaim, “Aku hapal 100 ribu hadis sahih dan 200 ribu hadis yang tidak sahih.” (Al-Hafizh Ibn Hajar, Hadyu Sari, hal. 654; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 12/415).

Sebagai ulama besar, Imam al-Bukhari melahirkan banyak karya tulis, di antaranya adalah Al-Jâmi’ ash-ShahîhAt-Târîkh al-Kabîr, at-Târîkh al-Awsâth, at-Târikh ash-ShaghîrAdab al-Mufrad, puluhan kitab lainnya (Lihat: Tahzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, 1/78).

Adapun terkait penulisan salah satu masterpiece-nya, Al-Jâmi’ ash-Shahîh, Imam al-Bukhari berkata, “Aku menyusun kitab Al-Jâmi’ ini dari 600 ribu hadis yang telah aku dapatkan selama 16 tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Allah.” (Al-Hafizh Ibn Hajar, Hadyu Sari, hlm. 656).

Yang luar biasa, Imam al-Bukhari pernah bercerita terkait penulisan kumpulan kitab hadisnya di atas, “Setiap kali aku hendak meletakkan satu hadis dalam kitab sahihku, aku mandi terlebih dulu kemudian shalat (istikharah) dua rakaat.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’, hlm. 101; Al-Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzîb at-Tahdzîb, 9/42).

Sebagaimana diketahui, dalam Al-Jâmi’ ash-Shahîh (Shahîh al-Bukhârî) ada sekitar 7560-an hadis. Jika untuk satu hadis Imam al-Bukhari shalat dua rakaat, berarti selama menulis kitab sahihnya, ia melaksanakan shalat sekitar 15.120 rakaat.

Yang juga  luar biasa, kitab  Shahîh al-Bukhârî hanya berisi sebagian kecil hadis-hadis sahih yang diambilkan oleh Imam Bukhari dari catatan kumpulan hadis miliknya yang berjumlah 600 ribu hadis. Artinya, masih banyak hadis sahih yang tidak dicantumkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitabnya tersebut. Tentang ini, Imam al-Bukhari berkata, “Aku hanya memasukkan sebagian hadis sahih ke dalam kitab ini dan aku meninggalkan sebagian hadis sahih lainnya agar kitab ini tidak terlalu tebal.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 12/402).

Mengapa hapalan Imam al-Bukhari begitu kuat? Terkait itu ia berkata, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih bermanfaat menguatkan hapalan daripada keinginan kuat dan seringnya melakukan muthâla’ah.” (Ibn Katsir, Al-Bidâyah, 11/23).

Apa yang Imam al-Bukhari kata di atas, ia praktikkan sendiri. Ia sering mengulang-ulang membaca (menghapal) kitab puluhan bahkan ratusan kali. Konon kitab Ar-Risâlah karya Imam Syafii saja, dibaca dan diulang-ulang oleh Imam al-Bukhari tidak kurang dari 700 kali.

Begitulah keagungan dan kebesaran Imam al-Bukhari yang wafat pada tahun 256 H dalam usia 62 tahun. [Arief B. Iskandar]