Jalur Masuk Perguruan Tinggi untuk Penghafal Al-Qur’an diskriminatif? Tidak perlu? Jawaban untuk Bapak AA

Bismillah

Dalam sebuah video di Cokro TV di kanal Youtube. Bpak AA menyebutkan beberapa ketidaksetujuannya terhadap jalur masuk Perguruan Tinggi (PT) bagi para penghafal Al Qur’an. Berikut ini bantahannya.

  1. Tidak menunjukkan kecerdasan.

Justru orang yang mampu menghafal Al Qur’an menunjukkan bahwa mereka telah mejadi orang-orang yang cerdas dibuktikan dengan kemampuannya mengigat ribuan kata dari ayat al qur’an. Dengan menghafal kemampuan mengingat mereka sudah terlatih dan meningkat, ini akan menunjang dan memudahkan untuk mengingat pelajaran-pelajaran lainnya.

  1. Para penghafal Al Qur’an belum tentu berakhlak.

Menghafal Al Qur’an itu adalah sebuah prestasi. Sama halnya dengan juara lomba olahraga, juara lomba tingkat nasional, juara lomba olimpiade dll yang juga menjadi nilai tambah ketika masuk PT. Kenapa prestasi di Al Qur’an Bapak persoalkan tentang akhlak? Apakah tidak ada pertanyaan yang sama juga kepada orang yang juara dalam bidang lainnya, apakah orang tsb berakhlak atau tidak? Yang sebenarnya tidak ini beda aspek. Kalau mau jujur orang yang sudah hafal Al Qur’an, insya Allah dia akan berakhlak. Al Qur’an saja dijaganya. Dengan menghafal Al Qur’an saja dia sudah dinilai berakhlak kepada Al Qur’an.

  1. Para penghafal Al Qur’an tidak mendongkrak aspek bisnis.

Inilah salahnya apabila segala sesuatu diukur dari aspek bisnis dan hanya bisnis. Tidak semua aspek bisa diukur dengan bisnis melulu. Bahkan, kalau mau jujur dengan masuknya  para mahasiswa ini ke kampus, ini bisa mendongkrak aspek bisnis dan non-bisnis sekaligus secara bersamaan. Saya ingin mencotohkan seperti yang Bapak contohkan bagaimana para penghafal ini akan mendongkrak kampus.

Salahsatu contoh : Kampus merekrut para penghafal Al Qur’an, lalu mereka membawa nama kampus di ajang MTQ Nasional dan Internasional dan memperolah Juara 1, ini akan membawa nama baik kampus, orang akan tertatik masuk ke kampus ini. Dan kampus ini akan dipandang berkualitas. Orang-orang jadi ramai ingin masuk kampus ini. Maka aspek non-bisnis dan bisnis seklaipun akan sejali jalan.  Belum lagi kecerdasan mengingatnya yang sudah teruji.

4. Beasiswa ini Diskriminatif.

Tidak sama sekali! Seperti yang sudah saya singgung di poin no. 2, ini sama saja seperti kampus merekrut orang yang berprestasi di bidang olahraga, teknologi, kesenian dll. Kenapa beasiswa semacam ini tidak disebut juga diskriminatif? Toh semua orang juga tidak bisa menggapai prestasi-prestasi itu? Jadi prestasi hafidz ini termasuk juga prestasi olahraga dkk tidak diskriminatif. Bahkan kalau mau disetarakan, bisa saja dicarikan aspek yang sepadan untuk orang non-muslim seperti yang diterapkan oleh kampus Unnes. “misalnya Kristen yang memiliki prestasi khusus, antara lain menghafal Injil juga diakomodasi” kata  Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes

  1. Salah sangka

Sebenarnya jalur para penghafal Al Qur’an ini hanya nilai tambah, tidak satu-satunya aspek penentu. Tetap dilihat nilai akademiknya. Sebagaimana prestasi-prestasi yang lain juga menjadi nilai tambah. Kalaupun ada para penghafal qur’an ini masuk tanpa tes. Ada juga jalur lain seperti  juara olimpiade tingkat nasional masuk PT tanpa tes. Jadi dimana masalahnya? Kenapa harus repot dengan beasiswa ini tapi tidak repot dengan jalur yang lain?

  1. Para penghafal Al Qur’an tidak terlalu dibutuhkan karena zaman sudah canggih.

Menghafal Al Qur’an bukan hanya masalah Al Qur’an sudah banyak dicetak atau tidak. Sudah mudah diakses atau tidak. Tapi lebih besar dari itu. Para penghafal akan diberi kemulian tinggi oleh Allah Ta’ala diakhirat kelak. Dan di dunia dimuliakan oleh Allah Ta’ala juga. Jadi bukan berarti ketika Al Qur’an sudah ada dimana-mana sehingga tidak perlu lagi menghafalnya. Gimana kalau Bapak sedang berada di tengah laut sendirian? Masih bisa buka HP? Masih bisa buka Al Qur’an online? Masih bisa pergi ke rak buku? Semua itu akan terjawab dengan menghafalnya.

Sekian

Wallahu a’lam bish showaab

Yendri Ikhas Fernando

29/9/1019 – 29/1/1441

Refrensi :

https://www.researchgate.net/publication/308633071_Comparison_of_Intelligence_test_Results_among_Hafiz_and_Non-Hafiz_of_Holy_Quran_Students_at_Their_Entrance_to_Schools

https://www.youtube.com/watch?v=3C2SfYiMYNI (video bahasan)

https://nasional.tempo.co/read/869661/setelah-snmptn-ipb-dan-undip-terima-mahasiswa-hafiz-al-quran/full&view=ok

https://tirto.id/hafidz-quran-seleksi-masuk-kampus-dan-represi-islam-oleh-orba-cKbf

https://www.jpnn.com/news/juara-olimpiade-sains-diprioritaskan-masuk-ptn-tanpa-tes

Pacaran >< Ta’aruf? BEDA BGT! (Pacaran dalam Islam)

© IG : @bang.yendri

Bismillah
Pacaran kalau kata Ust. Adi Hidayat (UAH), budaya melayu tempo dulu, tangan si perempuan dikasi daun pacar pas selesai lamaran, menandakan masa dia persiapan untuk menikah. Sampai disini pacaran itu boleh. (Cek video UAH di YT).

Tapi pacaran sekarang gak begitu.

Menurut KBBI : pacar/pa·car/ n teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih;

Nah, disini letak salahnya. Yuk kita bahas

Dalam islam kehidupan antar laki-laki itu asalnya dipisah guys, laki-laki ngumpul sama laki-laki doang, juga begitu perempuan. Tapi dalam beberapa keperluan, laki-laki dan perempuan boleh aja berjumpa dalam satu momen, contohnya belajar, rapat dll. Tapi dengan syarat tidak campur baur alias dipisah tempatnya, ada jaraknya. Ini kalau rame-rame. Kalau pas berdua, boleh berbicara, seperlunya, menjaga adab kesopanan, tetap menundukkan pandangan, memandangpun seperlunya, dan tanpa syahwat (nafsu).

Tapi, sekarang ini, mulai dari SD, SMP, SMA, Kuliah dan pasca kuliah pun, udah kenal dan lakuin yang namanya pacaran. Artinya menjalin hubungan asrama, eh bukan maksudnya asmara dengan lawan jenis tanpa akad nikah. Kalau mahasiswa atau pasca-mahasiswa bisa aja alasan nya ingin menempuh pernikahan. Lha, anak SD, SMP dan SMA? Masak iya? Kalaupun iya, sangat jarang zaman sekarang. Yang ada pacarana untuk main-main. Bukan berarti yang pacarana untuk menempuh pernikahan jadi boleh. Tidak juga.

/ Yuk Kenal Ta’aruf /

Nah, khusus untuk yang memang ingin menikah ne, ada caranya sendiri dalam Islam dalam mengenal lawan jenis yang akan kita nikahi. Namanya Ta’aruf (Proses mengenal dan mendalami si calon pasangan guys).

Pacaran dan Ta’aruf ini beda banget guys, ini beberapa bedanya :

1. PACARAN prosesnya disebarluaskan, kemesraanya biasanya ditampilkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sedangkan TA’ARUF. Prosesnya ditutupi, hanya diketahui oleh pihak tertentu saja, nah pas ngundang, baru deh disebarin.

2. PACARAN biasanya komunikasinya pakai kata sayang-sayangan, cinta-cintaan dan sejenis. Sedangkan TA’ARUF gak akan ada kata yang seperti itu. Komunikasi sebatas keperluan saja, bahkan kalau mau lebih menjaga, komunikasi lewat pihak ketiga.

3. PACARAN biasanya apa-apa berdua’an, mau jalan, makan, nonton, boncengan motor, satu mobil, dan aktivitas lainnya semuanya berdua’an. Sedangkan TA’ARUF, tidak akan ada aktivitas berdua’an, kalau mau berjumpa ditemani mahram si perempuan atau temen deketnya masing-masing.

4. PACARAN, targetnya gak jelas. Kalaupun punya target poin 1 sd 3 diatas masih nglakuin. Sedangkan TA’ARUF, targetnya terukur.

Nah, masih ada lagi bedanya, tapi 4 ini aja cukup dulu. Sekarang bisa bedakan kan yang mana Pacaran dan yang mana Ta’aruf?

Siap Nikah? Ta’aruf aja. Belum siap nikah? Ya persiapkan diri sampai waktunya tiba.

Kalau ada Ta’aruf, kenapa harus Pacaran?

Jadi Muslim Harus Kuat

Bismillah. Sejatinya seorang Muslim itu harus kuat. Kuat dalam Keyakinan. Berarti aqidah dan keimanannya harus sangat kokoh dan matang. Tentu saja ini didapat dengan menuntut ilmunya. Sedari kecil seorang anak harus dipahamkan tentang ilmu ini. Sehingga ketika dia sudah baligh dia sudah memiliki pondasi yang sangat kuat dalam rangka menjalani kehidupan dunia yang penuh fitnah, terlebih diakhir zaman seperti sekarang ini.

Kuat dalam fisik, hal ini dapat diraih dengan menjaga kesehatan, berolahraga. Sehingga bisa beribadah dengan maksimal, berkarya dan berbuat, bermanfaat kepada manusia dengan produktif.

Kuat dalam kondisi Hati. Yakni bersabar dan bersyukur atas semua yang terjadi di dunia ini. Karena apa yang terjadi didunia ini baik yang menimpa kita atau bukan terjadi atas kehendak Allah Ta’ala. Dan itu pasti yang terbaik yang terjadi. Walau menurut pandangan kita buruk. Karena kita tidak selalu tahu apa hikmah dibalik semuanya. Allah yang Maha Tahu. Jadi hati yang kuat itu Bersyukur atas nikmat yang didapat, dan bersabar atas ujian/musibah/masalah yang didapat. Sembari berusaha, berdo’a dan bertawakkal kepada Allah Ta’ala untuk menyelesaikannya.

Yendri Ikhlas Fernando

Duri, 21-9-19 / 21-1-1441

Fikih Seputar Kerja Freelance dan Online

Assalamu’alaykum.
Halo, Yendri disini. Dunia semakin berkembang, teknologi semakin kompleks, tentu saja Hukum Islam tetap bisa menghukuminya, dan kita sebagai umat muslim wajib dong terikat pada aturan Islam. Nah, berikut ini kumpulan hukum fikih islam yang berkaitan dengan Kerja Freelance dan Kerja Online yang saya rangkum dari berbagai sumber.

Silahkan komen dibawah kritik dan saran

NO Topik Sumber Kesimpulan Terkini
1 E-Money (Secara Umum) KH. Hafidz Abdurrahman
2 Sistem Copyright (Hak Cipta) Rumah Fikih Indonesia
3 Kartu Kredit
  1. E-Money (Secara Umum) | KH. Hafidz Abdurrahman (Hizbut Tahrir) | Boleh
  2. Sistem Copyright (Hak Cipta)
  3. Kartu Kredit
  4. Kartu Debit
  5. Paypal
  6. Akad-akad di Fiverr.com
  7. Akad-akad di Projects.co.id
  8. Bitcoin
  9. Forex

Tangisi Diri!

Tangisi diri! Orang berlomba-lomba beribadah, kita belum juga lagi.

Orang-orang beri’tikaf, kita belum juga lagi.

Semoga ketidakberpunyaan kita akan waktu beri’ktikaf karena menunaikan kewajban lain segera diganti oleh Allah. Diganti dengan lapang waktu, lapang uang, lapang dada. Usahakanlah semaksimal mungkin untuk beri’tikaf.

Tapi tangisi diri jika ketidakbisaan kita karena kita yang tidak mau. Mengangislah.

Yaa Allah, kami berlindung dari itu.

Rabu, 24 Ramadhan 1440 H