Dakwah, Mulai dari : Sekarang, Diri Sendiri, Hal Terkecil, Hal Termudah, Yang Kita Bisa

Bismillah. Alhamdulillah. Shollu ‘ala nabi.

Bagi Muslim perintah berdakwah melekat kepada pribadi masing-masing. Sedangkan berdakwah secara berjamaah hukumnya fardhu kifayah.

Untuk bisa melaksanakan perintah dakwah, maka berikut ini 5 poin yang akan mempermudahnya, yakni ;

1. Mulai dari sekarang juga. Jangan menunda-nunda.

2. Mulai dari diri sendiri. Setiap kita punya kelebihan dan potensi. Ketahui itu, sehingga menjadi sangat berguna.

3. Mulai dari terkecil. Mulai dari hal-hal terkecil.

4. Mulai dari hal-hal termudah.

5. Mulai dari apa yang kita bisa.

Jika kelima poin diatas digabungkan, maka saya yakin masing-masing kita akan menemukan jalan dakwahnya.

Berdakwah dapat dilakukan ;

1. Dengan tangan atau kekuatan, pengaruh, kekuasaan.

2. Dengan lisan.

Poin ini bisa dikembangkan lagi seperti berdakwah dengan tulisan, gambar, video, status, nasyid, syair dan media-media lainnya.

Inti dari dakwah itu : menyeru kepada kebaikan dan kebajikan, mencegah dari yang mungkar.

8 Muharram 1440 h / 18 September 2018

Duri

Advertisements

Kumpulan Isi Blog Lengkap – Ust. Abdul Somad, Lc, MA

kumpulan blog ust somad

“The Somad Project”

Asslalamu’alaykum, bagi kawan-kawan yang ingin membaca tulisan Tuan Guru Ust. Abdul Somad, Lc, MA (Datuk Seri Ulama Setia Negara) bisa di download disini.

Update : 22 Jumadil Akhir 1439 / 10 Maret 2018

Keterangan :

  1. Tulisan Blog dari April 2010 sd Juni 2016.
  2. Ukuran : 76 MB dalam bentuk .zip. Di ekstrak dulu baru buka di browser.
  3. Untuk versi PDF (hanya tulisan April dan Juli 2010) bisa diunduh disini.

 

7 Hari Bisa Buat Website Profesional Untuk Orang Awam : Klik Disini

Unduh Template Powerpoint untuk Video Undangan Pernikahan : Klik Disini

[Opini] Membuka Mata, Diatas Misi Menyelamatkan Moral Pemuda Islam

Indonesia akan melewati bonus demografi pada tahun 2020-2030. Yakni jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan jauh lebih banyak pada tahun-tahun tersebut. Pada tahun 2015 saja 51 dari 100 orang Indonesia merupakan usia produktif. Dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2030 nanti. Artinya sekitar 2-12 tahun mendatang, penduduk Indonesia akan didominasi anak-anak muda. Dan tentu saja mayoritas pemuda-pemudi islam.
Namun sayang seribu sayang, melihat gelagat fenomena zaman now, sungguh miris melihat kondisi yang menyelimuti pemuda-pemudi islam. Mulai dari masalah klasik semisal pergaulan bebas termasuk LGBT sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, pemahaman agama para remaja dan pemuda kebanyakan saat ini sungguh minim, iman yang menjadi benteng pribadi mereka sangat tipis. Interaksi antara laki-laki dan perempuan tidak ada batasan yang jelas, bahkan karena ketidaktahuan mereka. Fenomena sosmed yang booming membuat mereka seakan tanpa batas dalam bergaul. Begitu juga LGBT yang merupakan kampanye dunia ini dilakukan secara sistematis dan terstruktur, para pendukungnya tersebar dan siap menerkam para generasi muda.
Selain itu, di Indonesia juga darurat narkoba. Bayangkan, menurut data yang cukup teranyar, Data BNN tahun 2016 saja 27% pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa (republika.co.id, 30/10/2017). Coba lihat, jika menurut BPS ada 61,83 juta pemuda di Indonesia , berarti lebih dari 16 jutanya terjangkiti narkoba. Apa ini tidak darurat? Masih menurut BNN, di dunia terdapat 200 jenis narkoba, baru 68 yang terdeteksi di Indonesia (republika.co.id, 30/10/2017), bukan tidak mungkin 132 jenis lainnya juga menyerbu Indonesia, terungkapnya Sabu-sabu seberat 3 Ton pada awal Februari lalu menjadi bukti konkretnya. (aceh.tribunnews.com, 11/2/2018). Ada yang mengatakan, yang tersembunyi jauh lebih besar. Bukan tidak mungkin pula teori berikut ini benar, 1 kapal dikorbankan untuk meloloskan beberapa kapal lainnya.
Belum lagi masalah pornografi, masalah kekerasan antar pemuda dan masalah lainnya.
Saatnya Lakukan Perbaikan
Dengan berbagai permsalahan diatas yang sebenarnya masih banyak lagi. Mari kita membuka mata, mungkinkah akan didapat generasi dambaan pada 2-12 tahun yang akan datang? Oleh karena itu dibutuhkan kerja maksimal dan berkepanjangan untuk membangun generas terbaik. Bukankah sebenarnya umat islam ini umat yang terbaik? Umat islam menjadi umat terbaik karena melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Tapi, bisakah umat islam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar jika keadaannya darurat seperti diatas? Jawabannya tidak.
Oleh karena itu penulis mengajak kita semua untuk melakukan perbaikan, bahasa mudahnya berdakwah. Baik itu mengajak keluarga maupun umat secara keseluruhan terkhusus untuk remaja dan pemuda. Mengajak mereka untuk mau belajar agama sebagai pengendali dan benteng awal dalam menanggulangi semua persoalan diatas. Setelahnya baru solusi-solusi lainnya.
Bukankah ketika remaja dan pemuda mengetahui tata cara bergaul yang benar akan lebih menjaga hubungan sosialnya? Bukankan mereka yang tahu halal dan haram akan menjadi benteng kokoh dalam kehidupannya? Saatnya membentuk komunitas-komunitas kajian islam sebanyak mungkin agar lebih banyak menjaring remaja dan pemuda untuk ikut bergabung. Saatnya menelurkan program-program segar dan produktif agar remaja dan pemuda bisa berpartisipasi dengannya. Sembari membesarkan program-program islami yang sudah ada. Alhamdulillah, saat sekarang ini sedang booming istilah ngaji, hijrah, gaul syar’ie, hijab syar’i dan istilah-istilah lainnya. Namun, itu semua masih sangat jauh dari cukup. Inilah misi menyelamatkan generasi. Wallahu a’lam bish showwab. []

Yendri Ikhlas Fernando, ST
Pekanbaru, Aktivis Islam

[Liputan] Gagahnya ‘Big Rayah’ di Langit Sumatera Barat

Cerita ini berawal ketika penulis dan teman-teman aktivis islam lainnya (kalau boleh penulis sebut begitu) melakukan perjalan dakwah dari Pekanbaru, Prov. Riau ke Provinsi Sumatera Barat. Ada beberapa tujuan kami, selain untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, juga adalah untuk mengibarkan Panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ukuran besar yakni 4×6 meter yang kami sebut Big Rayah.
Kami berangkat pada Jumat pagi (16/2) sebanyak 15 orang menggunakan 2 mobil. Spot pertama yang kami buru adalah Kelok Sembilan. Big Rayah kami bentangkan di jembatan utama. Selain untuk dokumentasi pribadi momen ini juga menarik perhatian orang-orang lain yang berada disana. Selain di jembatan utama kami juga membentangkan di bagian bawah jalan.
Gambar 1 : Big Rayah di Kelok Sembilan (a)
Gambar 2 : Big Rayah di Kelok Sembilan (b)
Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan ke Kota Bukittinggi, sebelumnya kami merencanakan akan mengambil momen juga di Istana Pagaruyung, Batusangkar, namun karna perjalanan yang cukup lama dan tidak sempatnya waktu maka kami meniadakan kunjungan ke Istana yang dibagun pertama kali pada abad 17 dan pernah terbakar pada Perang Padri pada Tahun 1804 itu.

Dalam perjalanan ke di Kota Bukittinggi, kami singgah sebentar di Lembah Harau, Kota Payakumbuh dan juga menjalankan misi kami disana untuk membentangkan Big Rayah. Sembari menikmati indahnya kekuasaan Allah Ta’ala.
Setelah usai, kami lasngsung melanjutkan perjalanan. Akhirnya, kami sampai di Kota Bukittingi saat adzan Isya berkumandang. Sejenak kami beristirahat disebuah rumah yang sudah kami hubungi untuk bisa ditempati selama satu malam, sang pemilik rumah masih bagian dari keluarga salah seorang diantara kami. Pada sekitar pukul 21.00 kami sempat mengunjungi Jam Gadang walaupun tidak sempat membentangkan Big Rayah. Lokasi tempat kami menginap dan Jam Gadang berjarak sekitar 11 km. Setelah usai sedikit berkeliling, selanjutnya kami kembali ke rumah dan beristirahat untuk bisa melanjutkan perjalanan esok harinya.
Esok harinya, Sabtu (17/2) hari begitu cerah, sinar matahari agak terlambat keluar menyinari karena lokasi dikelilingi perbukitan dan gunung. Setelah usai sholat subuh, kami pun bergegas untuk pergi lagi ke Kota Bukittinggi. Sembari menikmati pemandangan Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, dalam perjalanan kami juga melihat Museum Rumah Kelahiran H. Agus Salim rahimahullah. Beliau adalah seorang muslim yang taat, cerdas, diplomat ulung dan juga salahsatu founding fathers Indonesia. Yang pada tahun 1915 bergabung dengan Sarekat Islam. Benar, disinilah lahirnya H. Agus Salim, Koto Gadang, yang tugunya juga sempat kami abadikan lewat sebuh foto nantinya
Di Kota Bukittinggi ada beberapa spot yang kami singgahi untuk membentangkan Big Rayah. Diantaranya Ngarai Sianok, Panorama, Janjang Koto Gadang, dan Lobang Jepang walaupun kami tidak sempat membentangkan Big Rayah di Lobang peninggalan Jepang ini, tempatnya Romusha dahulu. Disini kami cukup terenyuh bagaimana membayangkan kerasnya perjuangan para rakyat Indonesia dulu, melubangi bukit dengan hanya diberi makanan bubur, jika tidak produktif lagi maka tinggal dieksekusi. Ini juga menjadi pengingat bagi kami untuk tidak membiarkan Indonesia ini dijajah kembali, termasuk dijajah dari segi peraturan dan pemikiran.
Gambar 2b : Big Rayah di Lembah Harau
Gambar 3 : Big Rayah di Ngarai Sianok (a)
Gambar 3b : Big Rayah di Ngarai Sianok (b)
Gambar 4 : Big Rayah di Panorama
Gambar 5 : Teman Penulis di Tugu Kelahiran H. Agus Salim yang diresmikan pada tahun 2013 oleh Tifatul Sembiring
Gambar 5b : Teman penulis di Janjang Koto Gadang, juga disebut sebagai Replika The Great Wall, Cina
Gambar 6 ; Rayah di Puncak Janjang Koto Gadang, Big Rayah tidak sempat difoto
Ada pengalaman yang menarik saat kami disarankan untuk memasang Big Rayah di salahsatu sudut Janjang Koto Gadang oleh salahsatu petugas kebersihan disana, ternyata dia juga menyukai Panji Syahadatain ini. Beliau juga memiliki ghirah islam yan tinggi dan mengikuti isu keislaman yang terkini dan juga memiliki kesadaran yang cukup Islam. Cukup lama kami mengobrol, sayang penulis tidak ada menanyakan namanya. Barakallah Pak.
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Lawang dan Danau Maninjau yang terletak di Kab. Agam. Saat kami di Danau Maninjau, kami tidak sempat mengambil momen karena hujan sangat lebat. Kami singgah sebentar untuk Sholat Ashar dan Zuhur yang di Jama’ dan Qashar. Sehabis sholat penulis berkeliling masjid dan melihat sebuah poster sebuah pesantren yang dinisbatkan namanya ke Prof. Buya Hamka. Iya, ulama yang kharismatik, fenomenal dan pelaku sejarah itu memang lahir di Kampung Molek, Maninjau.
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Lawang, meskipun hari juga hujan, kami tetap membentangkannya dikelilingi oleh awan yang cukup pekat yang menghalangi pandangan kami ke pemandangan sekeliling, sehingga tidak dapat melihat Danau Maninjau dari atas puncak.
Gambar 7 ; Big Rayah di Puncak Lawang
Terakhir, sebelum matahari terbenam kami membentangkan Big Rayah di Pantai Artha, Kab. Padang Pariaman. Pantai sudah sunyi, hanya ada kami, sembari teman-teman menikmati pantai, kami sempatkan membentangkan Big Rayah.
Gambar 8 : Big Rayah di Pantai Artha
Selepas Isya, kami berangkat pulang ke Pekanbaru. Kami bahagia bisa menjalankan misi dakwah ini, tujuan kami untuk lebih mengenalkan tentang Panji Rasulullah kepada umat islam lainnya. Semoga lain waktu di lokasi lainnya. Semoga.

Yendri Ikhlas Fernando, ST (Aktivis Islam)
Pekanbaru

Bukan Ustadz

Saya bukan ustadz abdul somad lc ma, yang hafal hadits di dalam kepala.

Bukan juga ustad adi hidayat yang ingatannya kuat tepat akurat.

Bukan juga ustadz felix siauw yang follower nya woow, pendengarnya terpukau.

Bukan juga ustadz ismail yusanto yang piawai taktis nan politis.

Bukan juga ustadz salim a fillah yang pandai memilih kata dan di pilih pilah.

Bukan juga ustadz syafiq basalamah, …

Bukan berarti,

Tidak saya sebutkan diatas bukan ustad saya,

Itu cuma keterbatasan kata saja,

Untuk mencari kata berakhiran a-a begini cukup lama,

Jadi maklumi saja.

Saya hanya,

Pembelajar yang mencoba ilmu itu dikejar,

Penuntut ilmu yang ilmunya belum kelar,

Penggiat video ceramah yang banyak tersebar,

Juga hanya,

Pembaca tulisan yang kelihatannya berkesan,

Pendengar MP tiga, yang saya copy dari teman,

Pengikut kajian, yang katanya ustad kondang.

Sekian

15022018

Akhir Zaman, Saatnya Kembali ke Ulama

Bismillah.

Zaman saat kita berada sekarang ini adalah akhir dari zaman. Banyak fitnah-fitnah besar yang terjadi. Banyak kebaikan terlihat buruk dan keburukan terlihat baik. Banyak kesalahan dibilang benar dan banyak kebenaran di bilang salah. Banyak topeng-topeng kemunafikan yang bisa menipu banyak orang.

Oleh karenya, Rasulullah sudah meninggalkan dua panduan. Yang ketika umat islam berpegang teguh dengan dua panduan ini niscaya akan selamat dari dunia dan akhirat. Pasalnya? Siapa yang mampu memahami dua panduan ini saat Rasulullah pun tiada? Mereka itulah ULAMA. Dan panduan itu adalah Al Qur’an dan As Sunnah.

15022018

Impian

Setiap orang punya impian. Impian itu pula yang membuatnya semangat. Seorang pelajar misalnya, dia semangat belajar, berlatih bersungguh-sungguh, karena ada yang ingin diraihnya di ujung masa belajarnya, semacam hasil, kepuasaan atau prediket tertentu.

Bagi kita, muslim. Konsep Impian ini juga ada. Impian ini yang membuat kita tetap memiliki semangat dalam menjalani fase-fase kehidupan seberapapun beratnya fase tersebut. Impian tertinggi seorang muslim adalah Ridho Allah dan surga. Kemudian ridho Allah ini diterjemahkan dalam bentuk amalan yang berbagai macam sebutannya seperti Jihad, Sholat, Berdakwah dan sebagainya.

Ketika impian ini berjumpa dengan keyakinan, maka tidak ada lagi yang bisa mengalahkan seseorang yang memilikinya untuk mencapai Impiannya. Karena dia akan berusaha untul meraih impiannya sesuai dengan apa yang dia yakini. Dengan kata lain, Iman.

15022018

Anak Belia di Buai Cinta

Bismillah.

Anak-anak sekarang ini banyak yang memprihatinkan. Femomena smartphone, lagu-lagu cinta, tayangan-tayangan asmara, menghiasi kehidupan mereka.

Jika kita dekati mereka, dan mencoba masuk kedunia mereka. Di usia yang masih belia, pikirannya sudah dipenuhi dengan bait-bait porsi dewasa. Mengaganya lubang kebebasan sosmed, tanpa kontrol semestinya, menjadi pembentuk karakter mereka.

Oh, adik-adikku yang malang. Kemanakah pengajaran aqidah bagimu. Kemanakah kisah-kisah islami yang mengisnpirasimu. Kemanakah waktu untuk membaca al qur’an bagimu. Dengarkan apa kata orangtua dan gurumu. Dengarkan apa kata para ustadz dan guru ngajimu.

Seharusnya ini tidak terjadi untukmu.

Alhamdulillah, tidak semua yang seusiamu begitu. Telah tumbuh juga anak-anak yang peduli terhadap ilmu. Telah dilatih mereka dengan belajar. Telah dibiasakan mereka dengam agama. Kelak akan menjadi generasi emas islam yang terpercaya. Insya Allahu Ta’ala. Aamiin.

15022018

‘Pit Stop’ Islam

Bismillah.

Mobil Formula-1 itu berlari kencang. Dia harus segera menyelesaikan balapannya. Namun, seberapapun dia harus segera menyelesaikan lap terakhir dan mencapai finish, dia tetap harus berhenti sejenak. Dalam dunia balapan ini disebut dengan Pit Stop.

Di wikipedia, Pit stop disebut a racing vehicle stops in the pits during a race for refuelling, new tyres, repairs, mechanical adjustments, a driver change, as a penalty, or any combination of the above.

Intinya, seorang pengemudi harus berhenti sejenak untuk keperluan pengisian bahan bakar, penggantian bagian mobil yang telah rusak, penggantian pembalap dan yang sejenis. Segala kesalahan-kesalahan yang terlihat oleh Ketua Tim saat balapan berlangsung akan ditanggulangi disini. Semuanya akan dilakukan revitalisasi supaya perlombaan bisa dimenangkan.

Nah, filosofi ini yang ingin kita kaitkan dengan Islam. Semua orang dalam menjalani kehidupannya pasti melalui berbagai hambatan dan rintangan, tidak luput pula dari melakukan dosa. Atas itu semua Allah Ta’ala sudah menyediakan hal yang serupa dengan pit stop pembalap tadi meskipun jauh lebih tinggi untuk kita semua. Yakni Sholat.

Saat sholat kita beribadah kepada Allah Ta’ala Semua keluh kesah kita adukan kepada Allah. Dosa- dosa yang kita lakukan kita mohonkan ampun kepada Allah. Yang tentunya Allah Ta’ala pasti akan mengampuni. Dan ini kita lakukan 5x sehari semalam. Jika ingin lebih banyak bisa ditambah dengan yang Sunnah nya.

Bukankah Rasulullah menyampaikan bahwa seorang muslim yang melaksankan sholat ibarat mandi 5x? Adakah kotoran di tubuhnya setelah mandi sebanyak itu?

Jadi, bersemangatlah kita untuk memanfaatkan fasilitas kasih sayang dari Allah Ta’ala ini. Sekian

15022018