Gerakan #IndonesiaTanpaPornografi

Bismillah.

Gerakan #IndonesiaTanpaPornografi adalah sebuah cita-cita. Bagaimana negeri yang kita cintai ini penduduknya bebas dari pornografi. Kita akan mencoba mengupas masalah pornografi di indonesia.

Seputar Peraturan yang Mengatur tentang Pornografi di Indonesia:

  1. KUHP
  2. UU ITE Tahun 2008 yang di revisi UU No.19 Tahun 2016

Kenyataan yang ada bawa Pornografi di Indonesia masih menjadi barang obral dan merajalela, mudah ditemukan dan sudah menjadi darurat. Memakan banyak korban dan juga menjadi bisnis yang menguntungkan.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah dalam menangani konten pornografi berbasis digital?

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika dalam menangani konten pornografi berbasis digital sudah menerbitkan layanan Aduan Konten. Layanan ini membutuhkan partisipasi semua pihak khususnya masyarakat untuk mengadukan konten yang negatif melalui situs : http://trustpositif.kominfo.go.id. Adapun statistik konten yang sudah diadukan adalah  sebagai berikut ini :

aduankontennegatif

Gambar 1 : Statistik Aduan Konten sampai 27 Juli 2017. Sumber : http://kominfo.go.id/statistik

Dari gambar diatas konten yang bermuatan Pornografi  sudah di tutup sebanyak 773.339. Konten disini bisa berupa situs web atau akun. Ini masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah konten bermuatan pornografi yang ada di internet.

Menurut Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Noor Iza mengatakan pada 21 Maret 2017 [1] bahwa sudah banyak situs dan konten yang tidak layak telah ditutup Kementerian Kominfo. “Sampai sekarang sudah ada lebih dari 774.000 situs yang ditutup, lebih dari 3.200 akun twitter yang ditutup per tahun 2016, facebook dan instagram 1.300 lebih, file-file video di youtube 1.100 lebih, dan telegram ada dua,” paparnya.

Dalam  kesempatan itu, Noor Iza juga menghimbau masyarakat lebih sadar terhadap konten negatif dalam dunia maya. “Apabila ada informasi konten negatif dapat dilaporkan ke aduankonten@mail.kominfo.go.id atau melalui kirim pesan ke Whatsapp 0811-922-4545,” katanya. Noor Iza menekankan partisipasi masyarakat sangat penting dalam penanganan konten negatif di dunia maya. “Jika emergency, bisa ditulis emergency, sehingga kita bergeraknya lebih cepat,” tambahnya.

Jadi, sangat diharapkan peran kita bersama disini. Dari sini pula Gerakan #IndonesiaTanpaPornografi ini kita mulai.

Maklumat #IndonesiaTanpaPornografi :

  1. Tutup semua situs pornografi.
  2. Tutup semua akun facebook, youtube, twitter, LINE dan sosial media lainnya penyedia dan penyiplai konten dan layanan pornografi.
  3. Tutup semua majalah penyedia pornorafi
  4. Terapkan hukuman yang benar untuk pelaku pornografi.

Langkah Jangka Pendek Mengatasi Pornografi

  1. Untuk pengguna browser / peramban Chrome dan Firefox bisa mengunduh dan memasang AddBlock secara gratis. Aplikasi ini akan menutup semua jenis iklan. Termasuk jenis iklan pornografi.
  2. Memasang Bitdefender Anti Adware

    [1]. https://kominfo.go.id/content/detail/9476/kominfo-terus-lakukan-penutupan-situs-konten-negatif/0/berita_satker

    (Insya Allah bersambung dan diperbarui – di update 18 Agustus 2017)

    Download Jurnal Pusat Kajian Data dan Analisis (PKDA) Volume 2

    ​Assalamu’alaykum..

    Download Jurnal Pusat Kajian Data dan Analisis (PKDA) Volume 2, Juli 2017. Dengan Judul “Membahas Khilafah”

    Download

    Daftar Isi :

    1) Catatan Untuk Aiman Dan Kompas Tv Yang Mendadak Khilafah – hal. 3

    2) Menerima Ide Khilafah – hal. 5

    3) Untuk Sumanto, Tak Sejengkalpun HT Keluar Dari Karakter Dakwahnya – hal. 12

    4) Anomali Politik Dibalik Rencana Pembubaran HTI – hal. 12

    5) Turbulensi Politik Sebuah Keniscayaan – hal.12

    6) Wacana Hegemonik ‘Mendadak Khilafah’ di Kompas TV (Contoh Penyakit Media Ketika Membicarakan HTI) – hal. 17

    7) Apakah Adil, ‘Kebebasan’ yang Menyerukan Pelarangan Organisasi-Organisasi Islam Politik dan Menutup Dialog? – hal. 19

    8) Tentang Amoralitas dan Politik Intimidasi ‘Masyarakat Internasional’ Kepada Muslim Saat Ini – hal. 21

    9) Mengkritisi Wacana Perppu Pembubaran HTI – hal. 23

    10) Asing Aseng Ancaman Nyata, Khilafah Kok Dikambinghitamkan? – hal.26

    by PKDA Publisher

    Semoga bermanfat.
    Yendri, 9/7/17 – 15/10/38

    Mengenal TOEFL

    Bismillah.
    TOEFL adalah singkatan dari Test of English as Foreign Language. Secara harfiah bisa diartikan Tes Bahasa Inggris sebagai Bahasa Luar Negeri. Artinya standarisasi atas kemampuan berbahasa inggris seseorang yang digunakan untuk kepentingan tertentu seperti melamar beasiswa baik dalam maupun luar negeri, melamar pekerjaan baik dalam maupun luar negeri dan keperluan lainnya. Mengapa ini diperlukan? karena bahasa Inggris sudah menjadi bahasa internasional. Selain bahasa inggris juga ada 5 bahasa internasional lainnya yang diakui secara resmi oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau United Nations yakni Bahasa Arab (Arabic), Bahasa Mandarin (Chinese), Bahasa Prancis (French), Bahasa Rusia (Russian) dan Bahasa Spanyol (Spanish). Jadi jika mau menguasai bahasa, kuasai 6 bahasa dunia ini dahulu. Terlebih seorang muslim, bahasa Arab harus nomor 1 baru 5 bahasa lainnya.

    TOEFL dikelola secara tunggal dikelola oleh organisasi bernama ETS (Educational Testing Service).

    Beberapa Jenis TOEFL

    Setidaknya ada beberapa jenis TOEFL yang ada. Yakni :

    1. Jenis ITP.
    ITP (Institusional Testing Program) adalah tes yang bersifat lokal. Penggunaan adalah untuk syarat awal mengetahui kemampuan bahasa inggris seseorang. Contoh : Progaram Beasiswa Kementrian Keuangan yang membawahi LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk kategori Beasiswa Afirmasi mensyaratkan tes TOEFL jenis ini yakni cukup mendapatkan skor 450. Yang nantinya akan dibekali lagi untuk bisa mendapatkan skor yang lebih tinggi.

    2. Jenis PBT
    PBT (Paper Based Test) adalah tes yang berbasis kertas.  Tes ini berlaku secara internasional sebelum jenis iBT muncul yang akan dijelaskan dibawah.

    3. Jenis iBT.
    iBT (Internet Based Test) adalah jenis tes yang berbasis internet. Jenis TOEFL inilah yang berlaku secara internasional saat ini. Hasilnya berbentuk  skor bukan sertifikat yang bisa langsung dikirim ke tempat beasiswa/perusahaan tujuan. Pembayarannya menggunakan USD sekitar 180 sekali tes. Kita bisa melakukan tes secara langsung, namun bisa juga menggunakan jasa suatu institusi yang biayanya tentu sedikit lebih mahal untuk membayar jasa mereka dengan pembayaran Rupiah. Untuk di Kota Pekanbaru hanya ada satu tempat yang diakui yakni Balai/UPT Bahasa Universitas Riau. Tes dilakukan secara berkala.

    Untuk bisa mengenal lebih jauh tentang Tes TOEFL iBT ini bisa mengunjungi link ini. Bagi yang mau mempersiapkan diri untuk tes ini bisa belajar dari e-book berikut ini dengan seri Quick Preparation. Bisa untuk langkah awal persiapan, gratis di dapat dari situs www.ets.org.

    1. Quick Preparation volume 1 (PDF/2 MB/E-Book dan Transkrip Audio)
    2. Quick Preparation volume 2 (PDF/2 MB/E-Book dan Transkrip Audio)
    3. Quick Preparation volume 3 (PDF/24 MB/E-Book dan Audio langsung tertanam dalam E-Book, harus ada aplikasi Flash untuk memutarnya)
    4. Quick Preparation volume 4 (PDF/18 MB/E-Book dan Audio langsung tertanam dalam E-Book, harus ada aplikasi Flash untuk memutarnya)Selamat belajar.

    Semoga bermanfaat. Selamat belajar.

    Yendri, 8/7/13 – 14/10/38

    Umar bin Abdul Aziz

    al-quran

    ​Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu al-’Ash bin Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia keturunan Bani Umayah, berdarah Quraisy. Ia lahir pada tahun 61 H/682 M di Madinah (Tadzkirah al-Huffâzh, 1/118-120).

    Umar bin Abdul Aziz sejak kecil mencintai ilmu dan sering menghadiri majelis para ulama. Madinah pada zamannya adalah kota yang gemerlap dengan kebaikan dari ilmu para ulama, fuqaha dan orang-orang salih. Yang pertama kali ia pelajari dari para ulama adalah adab (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/679).

    Ia hapal al-Quran sejak masih kecil. Al-Quran membimbing dirinya hingga menjadi orang bersih. Sungguh membekas semua pelajaran dalam al-Quran yang ia pelajari. Ia sangat takut jika mendengar kematian sehingga ia sering menangis (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/678).

    Umar bin Abdil Aziz memiliki 33 guru. Delapan di antaranya adalah para Sahabat dan 25 lainnya dari kalangan Tâbi’în (Musnad Amîr al-Mu’minîn ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 33). Ia pernah duduk bersama Abu Hurairah ra. Karena itu ia banyak meriwayatkan hadis dari jalur Abu Hurairah ra. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 4/47)

    Tentang sosoknya yang agung ini, Al-Hafizh al-Imam adz-Dzahabi antara lain berkata, “Umar bin Abdul Aziz adalah al-Imam al-Hafidz al-‘Allamah al-Mujtahid az-Zahid al-Abid, as-Sayyid Amirul Mu’minin haqq[an].” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’ 5/136, 120, 114, 144).

    Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problem yang ada dan memiliki analisis yang tajam. Di antara karakteristik yang ia milikinya antara lain: rasa takut yang tinggi kepada Allah SWT. Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. “Berilah aku petuah!” Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar, “Amirul Mukminin! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberi engkau manfaat… “ Serta-merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu-sedu hingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 164).

    Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang wara’. Di antara sikap wara’-nya adalah keengganannya menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi meskipun sekadar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, “Wahai Khalifah! Bukankah itu sekadar aroma saja, tidak lebih?” Beliau menjawab, “Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena aromanya?” (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn Abdul ‘Azîz, hlm. 192).

    Umar bin Abdul Aziz pun sangat amanah dalam menggunakan fasilitas dan uang negara serta harta kaum Muslim. Ia biasa menggunakan lampu negara saat mengurus urusan kaum Muslim. Setelah selesai, ia segera memadamkan lampu tersebut, lalu menggunakan lampu pribadi (Atsar al-Waradah fî Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz fî al-‘‘Aqîdah 1/164).

    Umar bin Abdul Aziz juga adalah orang yang sangat zuhud. Kezuhudannya justr mencapai level tertinggi saat ‘puncak dunia’ berada di genggamannya. Ia meninggalkan semua perkara yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya (Atsar al-Waradah fî ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz fî al-‘Aqîdah, 1/146).

    Imam Malik bin Dinar berkata, “Orang-orang berkomentar tentang aku, ‘Malik bin Dinar adalah orang zuhud.’ Padahal yang pantas dikatakan zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. Dunia mendatangi dirinya. Namun, dunia itu ia tinggalkan.” (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/699; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 5/134).

    Sebelum beliau berkuasa menjadi khalifah, beliau menjual kekayaannya. Lalu uangnya dimasukkan ke Kas Negara (Atsar al-Waradah fî ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz fî al-Aqîdah, 1/155).

    Begitu sederhana dan zuhudnya, Umar bin Abdul Aziz pernah tidak mampu pergi berhaji gara-gara tak cukup memiliki biaya (Shalabi, Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 70).

    Umar bin Abdul Aziz pun memiliki akhlak yang luhur. Di antaranya adalah sikap tawaduk (rendah hati). Imam Ibnu Abdil Hakam berkata, “Di antara sifat tawaduknya adalah ia melarang orang-orang berdiri untuk sekadar menyambut kedatangannya.” (Ibn al-Hakam, Sîrah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azîz, hlm. 34-35).

    Sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil. Bahkan keadilannya adalah di antara sifat yang paling menonjol. Penduduk Himsh, misalnya, pernah mendatangi Khalifah Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu, “Amirul Mukminin, saya ingin diberi keputusan sesuai dengan hukum Allah.” Ia bertanya, “Apa yang engkau maksud?” Orang itu berkata lagi, “Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku.” Saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar lalu bertanya kepada Abbas, “Apa komentarmu?” Abbas menjawab, “Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku, Walid bin Abdul Malik.” Mendengar itu, serta-merta Khalifah Umar ra. berkata, “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan daripada hukum Walid bin Abdul Malik.” Ia lalu memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dia rampas (Shalabi ,Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 78.).

    Umar bin Abdul Aziz wafat pada Hari Jumat di penghujung bulan Rajab tahun 101 H pada usia 40 tahun. Ia wafat setelah memegang tampuk Kekhilafahan selama kurang lebih dua tahun (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/719; Ibn Hajar, Tahdzîb at Tahdzîb, VII/475).

    Ia wafat dengan meninggalkan tiga orang istri, 14 anak laki-laki dan tiga anak perempuan (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib ‘Umar ibn ‘Abd al-Azîz, hlm. 314-315).

    Ia wafat dengan meninggalkan warisan hanya 17 dinar (sekitar Rp 35 juta). Harta itu lalu digunakan untuk membiayai pengurusan dan penguburan jenazahnya sebesar 7 dinar (sekitar Rp 15 juta). Yang tersisa dibagikan kepada semua ahli warisnya. Masing-masing dari mereka ada yang hanya mendapat 19 dirham (sekitar Rp 1,2 juta) saja. Padahal saat itu Khalifah Umar sanggup menggaji seorang gubernur sebesar 3 ribu dinar (sekitar Rp 6 miliar).

    Namun demikian, meski untuk keluarganya ia meninggalkan warisan yang sedikit, ia meninggalkan Kekhilafahan Islam yang seluruh warganya merasakan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan luar biasa sehingga pada zamannya tak ada seorang pun yang mau menerima zakat!

    Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

    Imam Waki

    ​ Sosok masyhur dengan panggilan Imam Waki’ ini memiliki nama asli Abu Sufyan Waki’ bin al-Jarrah ar-Ruwassi al-Kufi. Ia adalah sosok imam, al-hâfizh dengan hapalan yang sangat kuat, sekaligus ahli hadis yang sangat terkenal dari negeri Irak. Menurut Ahmad bin Hanbal, Waki’ bin al-Jarrah lahir pada tahun 129 H (At-Târikh al-Kabîr, 8/179).Menurut Imam adz-Dzahabi, Waki’ telah aktif menimba ilmu sejak usia dini dan telah mulai mengajarkan ilmu hadis pada usia 30 tahun. Selama hampir 40 tahun Imam Waki’ menjadi tujuan para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri.

    Tentang kekuatan hapalannya, Imam Ishaq bin Rahawaih berkata, “Hapalanku dan hapalan Ibn al-Mubarak berat dan betul-betul diupayakan. Adapun hapalan Waki’ adalah murni. Satu kali berdiri ia bisa menyampaikan 700 hadis murni hanya dengan mengandalkan hapalannya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dîl, 1/221).

    Imam Ahmad bin Hanbal pun mengakui, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya daripada Waki’ dan tidak ada yang sebanding dengan dia dalam hal ibadahnya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dîl, 1/219).

    Imam Ahmad juga berkisah, “Aku tidak pernah melihat Waki’ membawa kitab (saat mengajar).”

    Hal senada dinyatakan oleh Ali ibn Hasyram, “Aku belum pernah melihat Waki’ membawa kitab di tangannya. Ia selalu mengandalkan hapalannya.”

    Hal senada dinyatakan oleh Yahya bin Mu’in, “Tidaklah aku melihat ada seorang pun yang lebih kuat hapalannya daripada Waki’.”

    Karena itu, kata Yahya bin Mu’in, “Aku tidak melihat ulama yang lebih utama ketimbang Waki’ bin al-Jarrah.” (Al-Mustafâd min Dzayl Târîkh Baghdâd, 2/104).

    Imam adz-Dzahabi juga memuji Waki’, “Ia adalah seorang imam, al-hâfizh, periwayat yang kokoh, ahli hadis dari Irak dan imam panutan di kalangan para ulama.”

    Mengapa Imam Waki’ begitu kuat hapalannya? Salah satu rahasianya diungkap oleh pernyataannya sendiri. Suatu saat ada orang yang bertanya kepada Waki’ tentang obat apakah yang bisa memperkuat hapalan, ia menjawab, “Jika aku ajarkan kepada engkau, maukah engkau amalkan?” Orang itu menjawab, “Ya, demi Allah.” Kata Waki’, “Tinggalkan maksiat! Tak ada obat yang mujarab semisal itu.” (“Mukadimah” tahqîq kitab Az-Zuhd karya Imam Waki’, hlm. 13-69).

    Imam Syafii juga pernah berkisah, “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hapalanku. Lalu beliau menunjuki aku agar meninggalkan maksiat. Ia memberitahu aku bahwa ilmu adalah cahaya Allah, sementara cahaya-Nya tidak mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’ânah ath-Thâlibîn, 2/190).

    Padahal Imam Syafii adalah orang yang juga kuat hapalannya. Imam Syafii pernah berkata, “Aku telah hapal al-Quran saat umur 7 tahun. Aku pun telah hapal Kitab Al-Muwatha’ (karya Imam Malik) saat umur 10 tahun. Saat berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Tharh at-Tatsrîb, 1/95-96).

    Lalu mengapa hapalan Imam Syafii bisa terganggu? Saat itu Imam Syafii mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, “Aku tidak dapat mengulangi hapalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Imam Waki’ berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau renungkan!”

    Imam Syafii pun merenung, apa kira-kira dosa yang telah ia perbuat? Ia pun teringat bahwa pernah suatu saat melihat tanpa sengaja betis seorang wanita yang tersingkap saat wanita itu sedang menaiki kendaraannya. Imam Syafii pun segera memalingkan wajahnya.

    *****

    Imam Waki’ juga dikenal dengan kekhusyukan dan kesungguhannya dalam beribadah. Di antara perkara yang sangat ia perhatikan adalah shalat. Ia berkata, “Siapa yang tidak mendapati takbir pertama (bersama imam dalam shalat berjamaah di masjid, pen.), janganlah terlalu berharap tentang kebaikan dirinya.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, 3/74).

    Kata Ibrahim bin Syammas, Waki’ bin Jarrah juga pernah berkata, ”Siapa saja yang tidak bersiap-siap (untuk shalat berjamaah di masjid, pen.) saat waktu shalat hampir tiba, ia berarti tidak memuliakan shalat.”

    Namun demikian, meski amat banyak melakukan ibadah, Imam Waki’ memandang bahwa mengajarkan hadis lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah. “Andai shalat (sunnah) itu lebih utama daripada mengajarkan hadis, niscaya aku tidak akan pernah mengajarkan hadis.”

    Ia juga berkata, “Kalau bukan karena mengingat besarnya keutamaan shalawat kepada Nabi saw., niscaya aku tidak akan mengajarkan hadis.”

    Imam Waki’ pun sangat menjaga lisannya. Imam Ahmad berkata, “Ia tidak pernah membicarakan orang lain.”

    Imam Waki’ juga sosok yang tidak suka meminta-minta kepada manusia. Waki’. Ia pun tidak suka dengan popularitas. Ia tidak senang orang lain mengetahui shalat, puasa, atau ibadah yang ia lakukan.

    Ada satu kisah menarik terkait Imam Waki’, sebagaimana dituturkan oleh Said bin Manshur: Saat Waqi’ datang ke Makkah dan tubuhnya terlihat gemuk, Fudhail bin ‘Iyadh berkata kepadanya, “Bagaimana Anda bisa gemuk, sedangkan Anda adalah tokoh ulama penduduk Irak?” Imam Waki’ menjawab, “Semua ini karena kegembiraanku terhadap Islam.”

    Pada dasarnya Waki’ bin Jarrah adalah sosok ulama yang amat zuhud. Tentang zuhud, ia berkata, “Jika seseorang meninggalkan urusan keduniawian tidak sampai taraf para Sahabat seperti Salman, Abu Dzarr, dll maka aku tidak mengatakan bahwa ia adalah seorang yang zuhud…Bagiku di dunia ini ada yang halal, haram dan syubhat. Yang halal akan dihisab, yang syubhat akan dicela. Oleh karena itu posisikan dunia ini seperti bangkai. Ambilah dari dunia ini untuk sekadar membuatmu bertahan hidup.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ, 11/123, Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, 11/144).

    Imam Waki’ meninggal saat menunaikan ibadah haji pada tahun 197 H. Menurut adz-Dzahabi, “Waki’ meninggal dalam usia 68 tahun kurang satu atau dua bulan.” (Syaikh Ahmad Farid, Min A’lami Salaf, hlm. 53-69).

    Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

    Masruq bin Al-Ajda’

    al-quran

    ​Nama lengkapnya adalah Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadani al-Wadi’i Abu Aisyah al-Kufi (Abu al-Hajjaj al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 27/451-452).

    Mengapa dinamai Masrûq? Karena, kata Al-Hafizh Abu Bakar al-Khatib, “Ada yang mengatakan bahwa pada waktu kecil ia pernah hilang diculik, lalu ditemukan lagi. Karena itu ia dinamakan dengan Masrûq (Yang Diculik) (Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 13/232).

    Tentang tanggal kelahirannya tidak diketahui secara persis. Namun diperkirakan ia lahir tahun 1 Hijrah.

    Masruq adalah seorang pengembara dan pencari ilmu, sebagaimana dituturkan Amir asy-Sya’bi, “Aku tidak pernah mengetahui ada orang yang lebih banyak berkelana di berbagai tempat untuk mencari ilmu daripada Masruq.”

    Tentang keutamaannya, Ibnu Abjar dari asy-Sya’bi berkata, “Masruq lebih pantas memberikan fatwa daripada Syuraih karena Syuraih pun lebih banyak meminta pendapat Masruq.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/82).

    Ibnu Sa’ad juga berkata, “Dia tsiqah dan banyak mempunyai hadis yang layak diriwayatkan.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/84).

    Masruq juga seorang ahli ibadah, sebagaimana dinyatakan oleh Al-‘Ajali, “Dia banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak.”

    Hal ini dikuatkan oleh Abu Nu’aim yang berkata, “Di antara teman-teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya. Ia selalu mengingat banyaknya dosa yang telah ia lakukan. Ia sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan banyak beribadah. Itulah Abu Aisyah (ayah Aisyah), bernama Masruq.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/95).

    Sebagaimana tradisi salafush-shalah, Masruq pun tak pernah meninggalkan shalat malam. Dalam hal ini Al-A’masy bin Abi adh-Dhuha berkata, bahwa Masruq biasa bangun malam dan melakukan shalat layaknya seorang ‘rahib’. Dia pernah berkata kepada keluarganya, “Sebutkanlah semua kebutuhan kalian kepadaku sebelum aku melakukan shalat (agar tidak terganggu dalam shalatnya).” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’ 2/96).

    Dalam hal itu ia mempunyai kebiasaan sebagaimana dikisahkan Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, “Masruq biasa memasang hijab antara dia dan anggota keluarganya ketika shalat agar khusyuk dalam shalatnya; meninggalkan mereka dan dunia mereka.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 3/96).

    Anas bin Sirin, dari istri Masruq, juga berkata, “Masruq banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya bengkak. Sering aku duduk di belakang dia sambil menangis karena tidak tega melihat apa yang ia lakukan.”

    Masruq juga banyak berpuasa, sebagaimana juga dinyatakan oleh asy-Sya’bi, “Masruq bin al-Ajda’ pernah jatuh pingsan saat ia berpuasa pada musim kemarau. Kemudian saat siuman, putrinya datang dan berkata, “Ayah, makan dan minumlah!” Ia menjawab, “Apa yang kamu inginkan dariku, putriku? Putrinya berkata, “Aku hanya kasihan melihat ayah.” Masruq berkata, “Putriku, aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah pada hari yang jaraknya mencapai lima puluh ribu tahun (Hari Kiamat).” (Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 13/234).

    Masruq tak pernah berhenti beribadah hingga—sebagaimana dikisahkan oleh Abu Ishaq, “Ketika Masruq menjalankan ibadah haji, ia tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan bersujud.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/95).

    Masruq adalah orang yang sangat zuhud. Salah satu buktinya, sebagaimana diceritakan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, “Suatu ketika Khalil bin Abdullah bin, salah seorang pembesar di Bashrah, memberikan hadiah uang kepada Masruq sebanyak 30 ribu dinar (lebih dari Rp 60 miliar). Meski saat itu dia sangat membutuhkan, ia tidak menerima uang tersebut.”

    Begitu zuhudnya, sebagaimana dikisahkan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir dari ayahnya, “Sungguh ia tidak pernah mengambil gaji dari pekerjaannya sebagai hakim. Ia berpedoman pada firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah membeli jiwa raga kaum beriman dan harta benda mereka dengan surga (QS at-Taubah [9]: 111).” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/96).

    Terkait sikap zuhudnya itu, Hamzah bin Abdullah bin Utbah bin Masud berkata, bahwa Masruq pernah berkata, “Tidakkah kalian ingin aku beritahu tentang dunia? Dunia adalah apa yang kalian makan, lalu habis; yang kalian pakai, lalu rusak; yang kalian kendarai, lalu binasa.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 2/96-97).

    Selain zuhud, Masruq pun seorang yang amat pemurah. Tentang ini Abu Ishaq as-Suba’i berkata, “Saat Masruq menikahkan putrinya dengan Saib bin al-Aqra’, Saib memberi Masruq uang 10 ribu dinar (lebih dari Rp 20 miliar). Lalu uang sebanyak itu dipergunakan Masruq untuk membiayai para mujahid Islam dan menyantuni fakir miskin.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 4/66).

    Abu Adh-Dhuha berkata, bahwa pernah Masruq menolong seseorang, kemudian datang seorang wanita memberikan hadiah kepada dia. Namun, Masruq tidak suka dan berkata, “Kalaulah aku tahu bahwa sifat seperti itu terdapat dalam dirimu, niscaya aku tidak mau berbicara dengan kamu untuk selamanya. Aku pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Siapa saja yang menolong seseorang untuk dapat mengembalikan haknya atau menghindarkan dia dari suatu kezaliman yang menimpa dirinya, kemudian ia menerima hadiah dari orang yang ditolong itu, maka itu adalah suatu kebinasaan.’” Mendengar itu, orang-orang di sekitarnya berkata, “Kami tidak menganggap kebinasaan kecuali jika ia bertujuan menyuap.” Masruq menimpali, “Jika berniat menyuap, itu adalah suatu kekufuran.’” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/81).

    Masruq juga seseorang yang sangat mencintai kebenaran dan keadilan. Terkait ini Asy-Sya’bi berkata bahwa pernah Masruq bertutur, “Sungguh saat aku memutuskan suatu hukum di pengadilan yang sesuai dengan kebenaran atau aku mendapatkan kebenaran (dalam berijtihad), itu lebih aku sukai daripada berjuang selama setahun di jalan Allah.” (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/82).

    Terakhir, sebagaimana dinyatakan oleh Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, Masruq pernah memberikan nasihat, “Tidak ada yang lebih baik bagi seorang Mukmin daripada kuburan yang dapat ia jadikan tempat beristirahat dari kebisingan dunia dan di dalamnya ia aman dari siksa Allah.” (Al-Ashbahani, Hilyah Al-Awliyâ’, 2/97).

    Menurut Sufyan bin Uyainah, Masruq meninggal dunia pada tahun 63 Hijrah (Ibn Sa’ad, Thabaqât Ibnu Sa’ad, 6/84).

    Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

    Amanat KKN v.2

    ​Assalamu’alaykum. Bismillah. Pengingat dari saya untuk adik2 mahasiswa/i Uin Suska Riau yang mau berangkat KKN :

    1. Berdo’a kepada Allah sebelum berangkat dan luruskan niat. Berdoa agar selamat, berkah, penuh rahmat, di ridhoi Allah, hasil gemilang dari awal hingga akhir.

    2. Siapkan program2 yang akan dijalankan.

    3. Bgun dan jaga komunikasi dan hubungan yang baik dgn masyarakat dan perangkatnya RT/RW dsb.

    4. Jaga interaksi dengan lawan jenis sebatas yang diperlukan dan dibutuhkan.

    5. Jangan campur baur antar Lk dan Pr (ikhtilat) dan berdua-duaan antar Lk dan Pr (khalwat).

    6. Tutup aurat di hadapan non mahram dan tundukkan pandangan.

    7. Tinggallah di rumah terpisah antara Lk dan Pr nya.

    8. Tinggalkan manfaat dan kontribusi di desa/tempat KKN ketika selesai.

    9. Jaga nama baik kampus.

    10. Tetap menjalin komunikasi kepada masyarakat disana selepas KKN.

    Smoga bermanfaat. Semoga selamat smpai tujuan.

    Yendri, Pekanbaru

    8/7/17 – 14/10/38