PETA, Umat Islam dan Islam di Indonesia

Ar Rayah

Keterangan Gambar : Jenderal Mohammad Abdul Muniam Inada sedang memberikan Ceramah Maulid Nabi Muhammad di Masjid Kwitang di Kota Jakarta pada tanggal 24 April 1943 M. Terlihat bendera Rasulullah (lebih lanjut dikenal Ar Rayah) yakni Panji yang bertuliskan kalimat syahadat digantungkan diatas mimbar. Terlihat Muniam Inada memakai baju khas Ulama. Disaksikan oleh para rakyat Indonesia yakni umat islam. Terlihat Masjid penuh sesak sampai merapat kedekat Mimbar. Cerita lebih lanjut ada di tulisan dibawah.
 
==============================
 
Indonesia dan Islam memang tidak bisa dipisahkan. Ini terlihat sangat jelas dari uraian kisah sejarahnya. Uraian sejarah yang diangkat pada tulisan kali ini adalah tentang sejarah PETA (Pembela Tanah Air).
 
Sudah menjadi kebiasaan setiap penjajah, apabila untuk mempertahankan keberadaannya, maka penjajah tersebut akan membangun Tentara atau Pasukan Bersenjata dari kalangan rakyat negeri jajahannya. Ini terbukti VOC (Belanda) di Indonesia, EIC di India, Prancis di Maroko dan akhirnya belajar dari situ Jepang juga menggunakan metode yang sama yaitu dengan membentuk Tentara yang diangkat dari rakyat Indonesia yang menjadi cikal bakal PETA dan selanjutnya menjadi cikal bakal TNI saat ini.
 
Sebenarnya Jepang ingin memanfaatkan PETA ini untuk membantunya melawan Sekutu pada saat itu yakni Amerika, Inggris dan Belanda dalam Perang Asia Timur Raya, namun pada akhirnya PETA ini yang menjadi rahim para pejuang kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Soedirman, Jendral Soeharto dan Presiden Soekarno karirnya lahir dari PETA ini.
 
Pertama kali, dibuatlah Pusat Latihan Pemuda yang disebut dalam bahasa Jepang dengan ‘Seinen Dojo’ di Tangerang yang melatih 50 Pemuda pada bulan Januari tahun 1943.
 
50 Pemuda ini dilatih sekitar 5 bulan. Selanjutnya, pada bulan Juni tahun 1943 hasil dari ‘Seinen Dojo’ ini ditunjukkan didepan Jenderal Mohammad Abdul Muniam Inada (foto diatas). Beliau adalah Pimpinan Tentara Jepang yang Beragama Islam. Terdapat juga Abdul Hamid Ono yang yang juga Muslim. Mereka sebagai Pimpinan Tentara Jepang serta Letnan Satu Yanagawa bersama Beppan pada saat itu memutuskan untuk membentuk PETA yang islami yang nantinya ‘Daidancho’ nya (Komandan Batalyon) dipimpin langsung oleh Ulama.
 
Karena biaya perang Perang Asia Timur Raya ini sangat besar, maka kemudian Jepang mengkondisikan pembentukan tentara pribumi ini sebagai tuntutan Ulama dan diberi nama seakan-akan tidak seperti membantu Jepang namun untuk membela tanah air.
 
Tuntutan ini dimuat dalam surat kabar ‘Asia Raja’ pada Senin 13 September 2605 (Tahun Jepang), No. 2017 Tahoen II yang dimuat di halaman depan dengan judul : “Kaoem Moeslimin Indonesia toeroet meminta berdirinja Pendjaga Poelau Djawa”. Tuntutan ini disampaikan oleh 10 Ulama. Selanjutnya 10 Ulama yang wakil umat islam ini meyampaikan usulannya kepada ‘Saiko Shikikan’ Letnan Jenderal Kumshiki Harada di Jakarta dan diterima oleh ‘Saiko Shikikan’ Letnan Jenderal Mayor Yamamoto Somubucho Kakka. Dalam suratnya, 10 Ulama tersebut menyebutkan nama Barisan Pendjaga Poelau Djawa adalah Barisan Pembela Islam. Nama ini muncul karena mayoritas penduduk asli Pulau Jawa adalah Islam.
 
Selanjutnya ‘Saiko Shikikan’ Letnan Jenderal Kumashiki Harada mengeluarkan Osamu Sirei No. 44 pada tanggal 3 Oktober 2603 memutuskan untuk membentuk Pasukan soeka-rela oentoek membela Tanah Djawa. Namun dalam pasal 1 tidak dikabulkan nama pasukan itu Pasukan Pembela Islam, yakni yang dikabulkan adalah Pembela Tanah Air. Hal ini terbaca sebagai sebuah bentuk deislamisasi.
 
Meskipun begitu, nafas islam tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari PETA karena bendera PETA ini bernafaskan islam. Hal ini tampak dari bendera PETA yang berlambangkan bulan bintang berwarna Putih, berada dalam bulatan matahari berwarna Merah yang memancarkan cahaya ke segala penjuru dan dicelah-celah cahaya berwarna Hijau. Tepian bendera ini berwarna Coklat. Bendera PETA ini disebut ‘Daikanki’. Ini memberikan gambaran pendekatan Jepang kepada Ulama agar bersedia membantu Jepang dalam memenangkan Perang Asia Timur Raya. Karena Ulama terbukti mampu memobilisasi santri dan rakyat yang mayoritas beragama islam dengan mengobarkan semangat jihad.
 
Demikianlah sedikit cerita tentang sejarah islam di Indonesia. (Insya Allah bersambung)
 
POINT – POIN PENTING :
1. Bendera bertuliskan Syahadat dekat dengan umat islam indonesia.
2. PETA selanjutnya TNI berwal dari umat islam
3. Ulama sebagai komando rakyat dan umat islam dalam melawan penjajah.
 
Sumber : Api Sejarah 2, Ahmad Mansur Suryanegara

Dikutip Oleh : Yendri Ikhlas Fernando
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s