Hidup untuk Makan, Makan untuk Hidup

Kalimat ini sederhana. Simpel. Tapi mempunyai arti yang sangat dalam. Pilihan terhadap kalimat itu bisa merubah pandangan seseorang dan pada akhirnya menentukan pilihan hidup dan aktifitasnya.

Kalimat ini sebenarnya saya kutip dari sahabat saya Akhi Marizal, S.Si, M.Sc seorang aktivis dakwah kampus yang juga seorang dosen ketika memberikan pemaparan materi tentang hakikat kehidupan dalam acara Open Recruitment Jilid II Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al Karamah UIN Suska Riau (www.ldk.uin-suska.ac.id) di Gedung Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau di Pekanbaru pada hari Ahad tanggal 18 Desember 2016 / 18 Rabiul Awal 1438.

Kembali ke judul diatas. Ketika pilihan jatuh pada potongan kalimat pertama “Hidup untuk Makan” maka seolah-olah aktivitas kita di dunia ini hanya dibatasi dengan kata “makan”. Seakan hidup ini tidak ada tujuan lain selain “makan”. Namun, ketika pilihan kita pada padanan kata yang kedua “Makan untuk Hidup” maka aktivitas “makan” diperlukan untuk “hidup”. Sehingga ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut, kalau “makan” untuk “hidup” lalu “hidup” untuk apa?

Nah, hal inilah yang ingin disampaikan oleh saudara saya tersebut kepada audience nya tentang tujuan atau hakikat kehidupan ini. Beliau lalu menjelaskan bahwa tujuan kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala yang terangkai dalam suatu firman indah Allah dalam Surat Adz Dzariyat [51]: Ayat 56 yang artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Terjemahan Depag)*. Beliau lalu melanjutkan bahwa ibadah tidak terbatas kepada ibadah mahdhoh, namun juga ghairu mahdhoh. “Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah itu ibadah, tambah beliau“.

Sekitar puluhan mahasiswa hadir dalam kegiatan ini. Walaupun cuma sedikit, tapi ini adalah usaha dalam dakwah islam.

Akhukum, Yendri Ikhlas Fernando (@yendrifernando)
26 Desember 2016 / 26 Rabiul Awal 1438
Pekanbaru

*File PDF Al Quran Terjemah Depag v2.1 2 (didalamnya tertulis rujukan DEPAG RI, Penerbit CV. TOHA PUTRA Semarang Edisi Baru Revisi Terjemah 1989)

Advertisements

Kekuatan Umat Islam

Beberapa waktu lalu umat islam islam menunjukkan persatuan dan kekuatannya dalam suatu aksi super damai yang dikenal dengan Aksi Bela Islam III. Banyak makna dari aksi ini salahsatunya adalah umat islam bisa bersatu walaupun berbeda organisasi dan kelompok karena mengedepankan persatuan islam dan berlapang dada terhadap perbedaan furu’iyah.

Khusus di Pekanbaru, untuk menjaga semangat ini maka dicanangkanlah Gerakan Shubuh Berjamaah yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau khususnya Komisi Ukhuwah. Beberapa kali sudah dilakukan gerakan ini seperti di Masjid Ar Rahman Jln. Sudirman, Masjid Babul Iman Jln, Purwodadi (Panam) dan pagi ini di Masjid Al Falah Darul Muttaqin Jln. Sumatera.

Terkhusus pagi ini Ahad (26/12) 26 Rabiul Awal, taushiyah disampaikan oleh Al Ustadz H. Abdul Somad, Lc, MA. Dalam penyampaiannya, beliau menyampaikan 3 (tiga) kesepakatan para ulama dan tokoh riau, alumni aksi 212 di pekanbaru dalam rangka menjaga semangat 212 yang disepakati dalam apa yang beliau sebut Sildat (Silaturahmi Darat) yaitu sebagai berikut :

  1. Menjaga semangat 212 dengan Gerakan Subuh Berjamah dan meningkatkan ekonomi umat berbasis masjid;
  2. Menyatukan ormas-ormas islam;
  3. Merangkul ulama;

Terakhir, pada acara ini dikenalkan olahraga memanah dan berkuda di halaman Masjid sebagai implementasi Surat Al-Anfal ayat  60 ketika Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan yang mampu kita persiapkan untuk suatu saat nanti. Meminjam istilah Al Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc, MA dalam pengantarnya dalam taushiyah pagi ini “i’dad al quwwah al yaum hajah” (mempersiapkan kekuatan untuk keperluan suatu hari).

Terakhir Al Astadz H. Abdul Somad, Lc, MA mengatakan “jaga persatuan”, akhir beliau dalam taushiyahnya. Allahuakbar!

Akhukum, Yendri Ikhlas Fernando (@YendriFernando)
Pekanbaru, Ahad, 26 Des 2016 / 26 Rabiul Awal 1438

My Short Report About Aksi Bela Islam III

Today, Dec, 2 2016, in my country, capital city of Indonesia, Jakarta, there were a saying opinion with super peace were named Aksi Bela Islam III to sue Basuki Tjahaja Purna a.k.a Ahok as non-active Jakarta Governor to be detained because he was insult Al Qur’an Surah Al Maidah verse 51.

There are million people give partisipation on this activity and in my city, Pekanbaru, there are (may be, in my opinion) ten thousand peoples. We stand in Gajah Mada street.

Wassalam.