Pornografi Musibah Zaman Ini

Bismillah.

Ngeri! Pornografi bak tsunami saat ini. Dengan kemajuan teknologi konten nuansa birahi itu semakin tidak terbendung lagi, masuk lewat berbagai lini, menerkam dewasa sampai usia dini.

Jika tidak bangkit berdiri. Generasi akan musnah sendiri. Terpapar konten pornografi dari televisi sampai layar yang hanya selebar 3 jari ditangan mereka sendiri.

Tinggal klik sekali, ketik katakunci, klik lagi, kontennya langsung disuguhi, bisa diakses disana-sini, tanpa ketahuan teman atau papa sendiri.

Kontennya dalam bentuk gambar menari, bisa juga animasi, kartun kwalitas super tinggi, porno berkedok game, pertunjukan game show, iklan dan masih banyak lagi. Pokoknya banyak sekali.

Puluhan triliun rupiah setiap tahun silih berganti, perputaran uang dari bisnis pornografi. Dampak kerusakan otak pecandu, mereka tidak peduli. Yang penting materi (uang), materi, materi. Itu namanya eksploitasi.

Rabb semeta alam sudah mewanti-wanti. Tidak usah lirik kanan-kiri. Larangannya ada pada kitab yang kita baca setiap hari, namun mungkin jarang kita resapi, apalagi diamalkan sehari-hari.

Maunya solusi, UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE dan UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi pun seakan tak tampak implementasi, tak banyak memberi arti. Sementara korban berjatuhan sana-sini. Tampaknya perlu perombakan di berbagai lini. Untuk mengatur yang satu ini.

Pribadi harus bisa menahan diri, tundukkan pandangan dan perkuat iman di hati, kunci awal kesuksesan menjaga nafsi, agar tidak terjebak pada pusaran pornografi.

Masyarakat juga harus tampil unjuk diri, amar-makruf nahi mungkar sejak dini, membina umat agar taat pada Ilahi.

Yang paling penting ya ini, negara harus benar-benar hadir disini, dalam aturan yang terdri dari 2 (dua) fungsi, mencegah dan mengobati. Untuk mencegah, media mutlak tak lagi tontonkan tayangan ‘you can see’, konten birahi di dunia nyata dan maya harus disudahi, jika perlu duduknya para ahli diperlukan disini, para wanita tidak lagi lihatkan aurat sendiri, semua lini yang mendatangkan pornografi harus diakhiri, termasuk bisnis yang berputar setiap hari, buku pelajaran salah cetak jangan ada lagi.

Untuk mengobati, para pecandu pornografi bisa diterapi, terapi ampuh dari agama mereka sendiri, dan sistem hukum yang memberikan efek jera yang tak kan ulangi lagi.

Sekali lagi, negara harus benar-benar hadir disini. Melalui sistem aturan yang akan menaungi, aturan itu yang akan mempengaruhi, yang akan menyelesaikan pornografi, agar tidak lagi menjadi musibah zaman ini.

Kita lihat sendiri, ketika sistem aturannya tidak baik lagi, tidak terjamin kemampuannya dalam membenahi, semuanya rusak perlahan-lahan sendiri. Pornografi musibah zaman ini.

Tapi, jika tatanan aturannya dari Ilahi, insya Allah semuanya aman terkendali. Karena Ia tau pasti, apa yang cocok untuk problematika hidup ini. Sehingga pornografi tak jadi musibah lagi.

Wallahu  A’lam

Pacaran Gak Ya?

Bismillah.

Pacaran Gak Ya? Memang fitrah manusia. Ada rasa suka-suka. Antar pria dan wanita. Eits, bukan wariya ya.

Pacaran Gak Ya? Saat diri ingin membina asmara. Kebetulan hati sedang berbunga-bunga, saat sedang berjumpa dengan si dia. Ciaaa.

Pacaran Gak Ya? Namun hidup ini punya aturannya. Aturan dari sang maha pencipta, yang tahu seluk beluk hamba Nya.

Pacaran Gak Ya? Jika sudah mampu dan saatnya, menikahpun disila. Jangan di tunda-tunda. Insya Allah, akan ditunjukkan jalannya.

Pacaran Gak Ya? Namun bila belum disiapkan semua. Gak papa. Asal jangan menjalin asrama asmara, berdua-duaan tanpa mahramnya, tanpa ada akad nikah diawalnya.

Terakhir ya, jaga interaksi cukupkan pada yang perlu saja, tundukkan kedua mata, tips dari Nabi kita, banyak-banyak puasa. Paham ya?

Wallahu A’lam.

Selagi Masih Muda

Bismillah.

Selagi masih muda. Buatlah suatu karya. Karya yang bermanfaat buat manusia, juga dunia, serta agama.

Selagi masih muda. Kerahkan segala daya upaya. Untuk membuat hidup lebih bermakna. Demi Rabb pemilik alam semesta.

Selagi masih muda. Jangan banyak canda tawa. Lipat lengan baju dan busungkan dada. Bukan untuk sombong ya tapi untuk berbuat nyata.

Iya. Selagi masih muda. Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II (dua). Jadi penakluk sebaik-baik panglima. Di umur kurang lebih 23 tahun sahaja. Menembus tembok yang perawan (tidak pernah dibobol) selama 1000 tahun lamanya.

Masa Iya? Selagi masih muda. Jangan malas-malasan dong para pemuda. Umat menunggu untuk dibela. Bukan hanya canda tawa ya.

Selagi masih muda. Pelajarilah ilmu semua cabangnya, jika kau bisa. Kejarlah sampai ke ujung dunia. Ke negeri nun jauh disana. Dengan bekal niat ikhlas lillahi ta’ala.

Selagi masih muda. Selagi masih muda. Jika sudah saatnya. Langsungkan saja pernikahan nya ya. Jangan ditunda-tunda. Karena sebenarnya, iman itu masih setengahnya. Iya, iman yang di dada.

Wallahu A’lam.

Menggiring Opini

Bismillah

Banyak orang mengingat sesuatu karena seringnya dia melihat sesuatu itu. Ketika sudah ingat, dan ini dilakukan secara terus menerus, orang akan mulai paham pesan yang disampaikan. Biasanya teknik ini digunaan untuk menggiring suatu opini tertentu. Bisa saja digunakan untuk membentuk sebuah revolusi atau perubahan. Apakah perubahan yang baik ataupun buruk.

Tentu saja teknik seperti ini bisa digunakan pengemban dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan islam. Terlebih gaya penyampaiannya menarik, menggunakan visual yang keren, mudah dipahami dan mengena. Tentu ini sudah bisa dikatakan dakwah. Dakwah artinya menyeru. Alatnya bisa apa saja asal tidak melanggar aturan. Itu mubah (boleh). Ayo, manfaatkan kreativitasmu untuk dakwah islam.

Foto berikut adalah kumpulan poster di salahsatu Kampus di Pekanbaru yang isinya adalah pesan-pesan islam. Harapan pembuatnya mahasiswa bisa mengambil pesan yang disampaikan. Foto diambil beberapa hari lalu disalah satu rumah binaan mahasiswa kampus tersebut. Thanks bagi yang sudah jepretkan ya.

14542646_120300000369096145_531501216_n

Wallahu A’lam

3 Muharram 1438 H / 3 Oktober 2016

Malam hari di Pekanbaru

Mulai Ditinggalkan, Islam Butuh Pengembannya

Bismillah.

Pliss, jangan tinggalkan dakwah islam. Islam sekarang ini justru mencari orang-orang mulia yang ingin mengembannya. Mau memikul dengan segala resikonya. Balasannya kemuliaan tiada tara diakhirat sana.

Tolong, orang-orang berilmu, ajaklah umat untuk berdiri, bisa saja umat sedang duduk dengan lelah. Lelah dengan berbagai rongrongan pemahaman menyimpang. Peganglah tangan umat dan ajaklah mereka berdiri. Berdiri diatas kaki mereka sendiri.

Para ulama pewaris para nabi. Melalui lisan mereka ajaran islam ini terjaga. “Tidak ada nabi setelahku”, ucap Rasul. Namun para ulamalah yang akan melanjutkan risalah islam. Insya Allah kemuliaan disediakan, jika kita berkenan.

Wallahu A’lam

Zaman Telah Berubah, Umat Butuh Pengemban Dakwah

Zaman Telah Berubah, Tepat 1447* tahun yang lalu sejak Rasul menyuarakan dakwah pertama kali di Makkah, diawali dengan mendapatkan wahyu di Gua Hira dengan perintah Iqra’ = bacalah, kini dakwah sangat diperlukan.

Ditengah kurungan berbagai ide menyimpang yang menyerang kemapanan ide islam, ditambah semakin hari ide rusak itu semakin banyak dan bervariatif dengan jalan yang beraneka ragam, dengan sokongan media-media mitra, dengan dukungan dana yang besar, bagaimana mungkin dakwah bisa ditinggalkan.

Oleh karena itu, dakwah dibutuhkan. Umat butuh pengemban dakwah yang akan mengajari mereka islam yang benar, yang akan meluruskan yang bengkok, dari para da’i (penyeru) itu umat akan mengikut, umat butuh para pengemban islam yang IKHLAS, tanpa pamrih memberikan waktu mereka untuk mengajari, tenaga dan dana rela mereka sisihkan untuk memberi arti. Umat butuh pengemban risalah yang SABAR, sabar dalam menghadapi kejahilan umat, kebangkangan umat, dan kemalasan umat. Umat butuh pengemban dakwah yang JUJUR. Jujur dalam berucap, benar dalam berfatwa, ridho Allah semata yang dicari untuk memperbaiki umat.

Karena zaman telah berubah, Umat butuh pengemban dakwah yang akan mengajari mereka. Wallahu A’lam.

*1437 tahun sejak hijrah Rasul + 10 tahun di makkah

3 Muharram 1438 H / 3 Oktober 2016
Malam hari di Pekanbaru