Menjemput Lailatul Qadar

Carilah Lailatul Qadar itu di 10 malam terkahir bulan Ramadhan

Bismillah, Alhamdulillah, Allahumma sholli ‘ala Muhammad

Ketika yang dibahas adalah menjemput berarti kita datang dan tidak menunggu. Berarti ketika menjemput lailatul qadar maknanya kita datang ke mesjid mencari lailatul qadar. Rasulullah menyebutkan dalam suatu hadits bahwa lailatul qadar itu ada di 10 malam terakhir bulan ramadhan dan dalam hadits yang lain di malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir bulan ramadhan (malam 21, 23, 25, 27, dan malam 29).

Lail artinya malam. Sedangkan Qadar memiliki banyak arti diantaranya keberkahan dan taqdir.

Pada 10 malam terakhir Rasulullah biasa beriktikaf (berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah atau beribadah) untuk menjemput lailatul qadar. Hukum iktikaf adalah Sunnah Muakkad (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan).

Dalam surat Al-Qadr [97] : Ayat 1-5 disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar. Yang beribadah pada malam ini lebih baik nilainya daripada 1000 bulan (83 tahun 4 bulan). Malam ini sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita karena umur kita yang rata-rata 60-70 tahun. Pada malam ini pula turun Malaikat Jibril dan malaikat lainnya untuk mengatur semua urusan dan sejahtera pada malam ini sampai waktu fajar/shubuh.

Berikut ini amal yang bisa kita laksanakan untuk menjemput Lailatul Qadar :

  1. Beriktikaf selama 10 malam terakhir jika mampu. Dari malam 21 sampai akhir ramadhan atau masuk 1 syawal.
  2. Sholat berjamaah di masjid 5 waktunya. Terlebih untuk laki-laki. Untuk sholat isya pahalanya seperti sholat setengah malam. Jika ditambah dengan shubuh seperti sholat sepanjang malam.
  3. Membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi syafaat nanti di Yaumil Hisab.
  4. Sholat Tarawih dan Witir.
  5. Sholat Tahajjud sebelum sahur tanpa witir jika sudah witir.
  6. Berinfak atau bersedakah.
  7. Memberi makan untuk buka puasa.
  8. Bedzikir.

Semoga kita mendapatkan lailatul qadar. Aamiin. Wallhua’lam.[]

 

Sabtu, 20 Ramadhan 1437 H / 25 Juni 2016

Pekanbaru, 13:57 WIB

ICoSTechS 2016

icostechs 2016

The 2nd International Conference on Science and Technology for Sustainability 2016

(ICoSTechS 2016)

SKA Convention & Exhibition Center, Pekanbaru, Indonesia

30 November – 1 December 2016

http://icostechs.org/

Dear Professors, Researchers, and Practitioners,

It’s a pleasure to invite you to submit your Paper to The 2nd International Conference on Science and Technology for Sustainability 2016 (ICoSTechS 2016), which will be held at the SKA Convention & Exhibition Pekanbaru, Indonesia during 30 November – 1 December 2016.

The theme of the 2nd ICoSTechS 2016 will be Sustainability and e-Health

Accepted Papers will be published in the ICoSTechS 2016 Proceeding, andSelected Papers will be published in Regular Issue of IAES InternationalJournal of Electrical and Computer Engineering (ISSN 20888708) that indexed by SCOPUS.

The 2nd ICoSTechS 2016 will comprise of Information Technology, Mechanical and Industrial Engineering, Electrical Engineering, and Mathematic Sciences.

Important Dates : Paper Submission DEADLINE – June 30th, 2016

Please submit your paper via online system in https://www.edas.info/21969

Looking forward with your Full Paper Submission.

We also request your kindness to forward this Call for Paper to your colleagues/students as well.

Please email us for any questions to icostechs@uin-suska.ac.id

Looking forward to meet you in The 2nd ICoSTechS 2016, Pekanbaru, Indonesia.

By :
Chairman of The 2nd International Conference on Science and Technology for Sustainability 2016 (ICoSTechS 2016)

Unduh Brosur


Sumber : uin-suska.ac.id

Tentang Nuzulul Qur’an

nuzul_qur'an_yendrifernando.wordpress.com

nuzul_qur'an_yendrifernando.wordpress.com

Salahsatu ayat yang sering kita dengar dalam ceramah malam-malam Ramadhan adalah Al-Qur’an sebagai “hudallinnaas, wa bayyinaati minal hudaa wal furqoon” (Al Baqarah[2]:185) yang artinya “Al Qur’an itu petunjuk bagi manusia, dan penjelas dari petunjuk itu dan pembeda antara yang haq (benar) dan batil (salah)”. Dan “zaalikal kitaabu laaraiba fiihi hudallil muttaqiin” (Al Baaqarah[2]:2) yang artinya : “Inilah kitab yang tidak ada keraguan didalamnya petujuk bagi orang yang bertaqwa”. Pertanyaannya lalu kapan Al Qur’an ini diterapkan?

Yang sangat kontras ketika kata “kutiba” dalam Al Baqarah[2] : 183 diterapkan sedemikian rupa dan yang menentangnya akan dinilai sebagai orang salah besar. Namun kata “kutiba” dalam Al Baqarah[2] : 178 secara bersamaan tidak diterapkan? Lalu kapan Al Qur’an ini diterapkan?

Sudah jelas sekali sampai kepada kita di Bulan Ramadhan kita disemangati sedemikian rupa untuk membaca Al-Qur’an bahwa pahalanya berlipat ganda, bahwa dia akan menjadi syafa’at nantinya. Namun kita jarang disemangati untuk mengamalkannya. Kalaupun ada hanya secara umum. Lalu kapan Al Qur’an diterapkan?

Puasa di bulan Ramadhan kita jalankan karena semua orang mengerti bahwa puasa itu wajib. Jadi kapan kita akan mengerti juga bahwa ayat selain Al Baqarah[2] : 183 itu juga wajib? Lalu kapan jadinya kita terapkan Al Qur’an?

@yendrifernando